30 Desember 2014

Kisah Seorang Pelacur yang Merelakan Nyawanya untuk Seekor Anjing (Bagian 1)

Pada zaman kenabian Isa AS, banyak terjadi kerusakan dan penderitaan hasil imbas dari ulah kaisar romawi yang zalim. Kelaparan dan kemiskinan merajalela di negeri itu, negeri Palestina. Berbagai cara dilakukan oleh rakyat untuk melawan kelaparan dan kemiskinan itu. Tak sedikit dari rakyat yang kehilangan harapan hidupnya. Seorang ibu bahkan rela dengan terpaksa menjual anaknya, semudah seperti ia menjual jajanan. Perampokan, pembunuhan dan penganiyaan tak terelakkan, dengan cara terkejinya. Semua kerusuhan itu hanya untuk hidup.



Sementara ketika Nabi Isa menyampaikan dakwahnya kepada rakyat, tentara romawi selalu mengejar-ngejar beliau. Sesekali Nabi Isa mengumpulkan para orang miskin itu dan membagi-bagikan roti dan gandum. Namun, tentara romawi masih terus menggusur dan menganiaya mereka yang mengikuti Nabi Isa. Kehidupan rakyat saat itu sudah benar-benar tak menentu. Laki-laki pergi meninggalkan rumah dan keluarga mereka, entah kemana. Pelacuran terjadi dimana-mana. Karena setiap orang harus mempertahankan dirinya dari lapar.

Suatu ketika, ada seorang perempuan berjalan terseok-seok menahan rasa letih. Sudah sangat jauh ia menyusuri sepanjang jalan, hanya untuk mencari sesuap nasi. Tak jarang ia juga menawarkan diri kepada siapa saja yang mau, meski dengan harga yang murah. Namun,  perempuan muda itu terlihat terlalu tua dari usia yang sebenarnya. Wajah kuyunya terlihat menyesakkan, diguyur penderitaan panjang.

Ia tidak memiliki keluarga, kerabat, ataupun sanak saudara lainya. Orang-orang sekelilingnya menjauhinya. Bila bertemu dengan perempuan tersebut mereka melengos menjauhinya karena jijik melihatnya. Namun, perempuan itu tidak peduli. Pengalaman dan penderitaan mengajarkannya ketabahan. Segala ejekan dan cacimaki manusia diabaikanya. Ia berjalan dan terus berjalan, tiada henti. Sepanjang perjalanan, ia terus melenggak-lenggok menawarkan diri. Namun, tak ada hasil. Hanya panas yang masih terus membakar dirinya, menambah perih rasa lapar dan hausnya.


Akhirnya sampailah ia disebuah desa yang sunyi. Desa yang sangat gersang, tak sehelai rumputpun tumbuh disana. Perempuan lacur itu, dengan mata nanarnya, memandangi kepulan debu yang bertebaran di udara. Dalam pandangan dan rasa hausnya yang sangat itu, ia melihat sebuah sumur di batas desa yang sepi. Sumur itu ditumbuhi rerumputan dan ilalang kering yang rusak di sana-sini. Pelacur itu berhenti menyandarkan tubuhnya yang sudah sangat letih. Harapan mulai tumbuh. Rasa haus yang tak terhingga membawanya ke tepi sumur tua itu.



Bagian Sebelumnya || Bagian Selanjutnya

--------------------- Bacaan Bermakna