09 November 2014

Salman Al Farisi: Sang Pelopor Perang Parit (Perang Khandaq)


Pada tahun ke-5 Hijriyah, rombongan pemuka Yahudi Madinah pergi ke Makkah, menghasut orang-orang musyrik dan para musuh Islam untuk bersekutu menyerang menghabisi agama Islam yang ketika itu baru masuk.




Siasatpun diatur dengan cermat. Pasukan Quraisy dan Ghathafan (pinggiran kota Madinah) menyerang dari luar, sementara bani Quraidhah (Yahudi) menyerang dari dalam, tepat di arah belakang barisan pasukan Islam. Sehingga pasukan Islam terjepit dari dua arah. Pasukan musuh bisa dengan leluasa menghancurkan kaum muslimin.

Ketika tiba saatnya, kaum muslimin Madinah dikejutkan oleh pasukan musuh yang berjumlah besar dengan persenjataan lengkap sedang bergerak kearah Madinah. Kaum muslimin panik. Dua puluh empat ribu orang tentara yang dipimpin oleh Abu Sufyan dan Uyainah bin Hisn bergerak kearah Madinah. Tujuan mereka hanya satu: menghabisi baginda Muhammad, para pengikutnya dan agama Islam.

Pasukan ini sebenarnya tidak hanya terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari kabilah-kabilah yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Kaum muslimin sangat menyadari bahwa kondisi seperti itu sangatlah berbahaya. Dengan sigap, Rasulullah mengumpulkan kaum muslimin untuk bermusyawarah. Mereka sepakat untuk berperang dan mempertahankan agama dan kota mereka.

Saat itulah, seorang laki-laki jangkung berambut lebat tampil menyampaikan sebuah usulan yang brilian. Dialah Salman Al-Farisi. Dia sangat paham bahwa Madinah dikelilingi oleh gunung yang bisa dijadikan dinding perisai pertahanan. Hanya saja, ada sudut terbuka yang tidak dikelilingi oleh gunung sehingga bisa dengan mudah dijadikan jalan masuk pasukan musuh ke Madinah.

Di negerinya, Persia, Salman memiliki banyak pengalaman tentang teknik dan strategi perang. Maka ia mengusulkan strategi perang yang belum dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini, yaitu dengan menggali parit (Khandaq) perlindungan sepanjang sudut terbuka.

Penggalian parit seperti itu sebenarnya tak dikenal dalam kamus perang orang Arab. Mereka selama ini hanya mengenal teknik maju, mundur, gempur, atau lari. Meskipun demikian, Rasulullah menyetujui usul Salman. Bahkan, beliau pulalah yang membuat peta penggalian, memanjang dari utara ke selatan.

Rasulullah beserta kaum muslimin keluar dari kota Madinah dan berkemah di salah satu tempat di bukit gunung Sala’, membelakangi kota Madinah, kemudian mereka mulai melakukan penggalian parit yang menghalangi musuh untuk mendatangi mereka. Saat itu umat Islam hanya berjumlah 3 ribu orang. Nabi mulai membuat peta penggalian, dimulai dari Ajam Syaikhain (benteng yang dekat dengan kota Madinah yang diberi nama Syaikhain) yang terletak di ujung Bani Haritsah, memanjang hingga mencapai garis di Al-Madzadz. Seluruh wanita dan anak-anak dipindahkan ke rumah yang kokoh dan dijaga ketat. Bongkahan batu-batu diletakkan di samping parit untuk melempari pasukan lawan. Sementara sisi kota yang tidak dibuat parit, diserahkan pengamanannya pada Bani Quraizah.

Akan tetapi, di waktu penggalian parit berlangsung, tiba-tiba palu terhalang oleh sebongkah batu besar yang sangat sulit untuk gali. Walaupun Salman sangat kekar dia tetap tidak mampu menghancurkan batu tersebut. Kejadian tersebut dilaporkan kepada Rasulullah.Tatkala mendengar cerita dari Salman, Rasulullah menghampiri batu tersebut dengan memegang palu, Nabi pun menghancurkan batu itu dengan tangannya sendiri. Maka batu tersebut berkeping-keping hancur. Kemudian para sahabat kembali menggali.

Dalam proses penggalian, setiap sepuluh orang diwajibkan menggali parit sepanjang 40 meter (lebar 4,62 meter dan dalam 3,234 meter). Setelah sekitar enam hari, panjang parit yang berhasil digali mencapai 5.544 meter.

Penerapan strategi ini sangat tepat sebab pasukan lawan tidak mengetahui pertahanan menggunakan parit. Terbukti strategi ini cukup bisa membendung para sekutu. Selama satu bulan penuh, tidak ada kontak langsung antara kedua pihak kecuali saling lempar panah.

Bukan main terkejutnya pasukan musuh ketika mendapati parit terbentang di hadapan mereka. Pasukan besar hanya bisa berkemah di luar parit. Sekitar sebulan sudah mereka tertahan di kemah mereka dan sama sekali tidak bisa menerobos masuk ke kota Madinah. Hingga pada suatu malam, Allah mengirimkan angin topan yang menerbangkan perkemahan mereka dan memporak-porandakan tentara mereka.


Abu Sufyan memerintahkan pasukannya untuk mundur. Mereka pulang dengan penuh kecewa dan putus asa. Pasukan mereka porak-poranda sebelum bertempur dengan kaum muslimin.



--------------------- Bacaan Bermakna