08 November 2014

Kisah Salman Al Farisi Mencari Kebenaran Hakiki (Bagian 3)

Salman berpindah ke Yastrib dengan majikannya yang baru. Di sana dia melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan guru terakhirnya, Pendeta Amuria. Dia yakin itulah kota yang dimaksudkan. Salman tinggal di kota itu bersama majikannya yang baru.

Ketika itu Nabi yang baru diutus sudah muncul. Tetapi baginda masih berada di Makkah menyeru kaumnya. Namun begitu Salman belum mendengar apa-apa tentang kehadiran serta da’wah yang baginda Nabi sebarkan, kerana dia terlalu sibuk dengan tugasnya sebagai hamba.




Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah berpindah ke Yastrib. Ketika itu, dia sedang berada di puncak pohon kurma melaksanakan tugas yang diperintahkan majikannya. Dan majikannya itu duduk di bawah pohon. Tiba-tiba datang anak saudaranya mengatakan, “Biar mampus Bani Qaiah! ( kabilah Aus dan Khazraj) Demi Tuhan! Sekarang mereka berkumpul di Quba’ menyambut kedatangan lelaki dari Makkah yang mendakwa dirinya Nabi.”

Mendengar ucapannya itu, badan Salman terasa panas dingin seperti demam, dia menggigil kerananya. Sampai-sampai dia kuatir akan jatuh dan tubuhnya akan menimpa majikannya. Dia pun segera turun dari puncak ponon, lalu bertanya kepada tamu itu, “Apa kabar anda? Cobalah kabarkan kembali kepadaku!”

Sang majikan marah dan memukulnya seraya berkata, “Ini bukan urusanmu! Kerjakan tugasmu kembali!”

Keesokan harinya, Salman mengambil buah kurma sebanyak yang mampu dia kumpulkan. Lalu dia bawa ke hadapan Rasulullah.

“Aku tahu tuan orang soleh. Tuan datang bersama-sama sahabat tuan sebagai perantau. Inilah sedikit kurma dariku untuk sedekahkan kepada tuan. Aku lihat tuanlah yang lebih berhak menerimanya daripada yang lain-lain.” Lalu Salman hulurkan kurma itu ke hadapan sang baginda.

Baginda Nabi berkata kepada para sahabatnya, “Silakan kalian makan” Tetapi baginda tidak menyentuh sedikit pun makanan itu apalagi untuk memakannya.

Salman berkata dalam hati, “Inilah satu di antara ciri cirinya!”

Kemudian Salman pergi meninggalkan rombongan itu dan  dia kumpulkan pula sedikit demi sedikit kurma yang masih bisa dikumpulkan. Ketika Rasulullah pindah dari Quba’ ke Madinah, dia bawa kurma itu kepada baginda.

“Aku lihat tuan tidak mau memakan sedekah. Sekarang kubawakan sedikit kurma, sebagai hadiah untuk tuan.”

Rasulullah memakan buah kurma yang Salman hadiahkan kepadanya. Dan baginda mempersilakan pula para sahabatnya makan bersama-sama dengannya. Salman berkata dalam hati, “Ini ciri kedua!”

Kemudian Salman kembali mendatangi baginda Nabi di Baqi’, ketika baginda menghantar jenazah sahabat baginda untuk dimakamkan di sana. Dia melihat baginda memakai dua helai kain. Setelah Salman memberi salam kepada baginda, dia berjalan mengekori baginda sambil melihat ke belakang baginda untuk melihat tanda kenabian yang dikatakan gurunya.

Agaknya baginda mengetahui maksud Salman. Maka dijatuhkannya kain yang menyelimuti belakangnya, sehingga Salman dengan jelas melihat tanda kenabiannya.

Barulah kini Salman yakin, dia adalah Nabi yang baru diutus itu. Salman terus memeluk bagindanya, lalu dia ciumi sang baginda sambil menangis.

Tanya Rasulullah, “Bagaimana kabar anda?”

Maka Salman ceritakan kepada beliau seluruh kisah pengalamannya. Beliau kagum dan menganjurkan supaya Salman juga menceritakan pengalaman tersebut kepada para sahabat Nabi. Setelah Salman ceritakan pengalamannya, mereka sangat kagum dan gembira mendengar kisah tersebut.

Berbahagilah Salman Al-Farisy yang telah berjuang mencari agama yang hak di setiap tempat. Berbahagialah Salman yang telah menemukan agama yang hak, lalu dia iman dengan agama itu dan memegang teguh agama yang diimaninya itu. Berbahagialah Salman pada hari kematiannya, dan pada hari dia dibangkitkan kembali kelak.

Salman adalah seorang pemuda yang sibuk bekerja sebagai hamba, sehingga dia terhalang untuk mengikuti perang Badar dan Uhud.
Rasulullah suatu hari bersabda kepadanya, "Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!" Maka majikan Salman pun bersedia membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus dia tanam untuk sang majikan dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah saw. mengumpulkan para sahabat dan bersabda, "Berilah bantuan kepada saudara kalian ini." Mereka pun segera membantu Salman dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, setiap orang sahabat memberinya pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul, Rasulullah bersabda, "Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku."
Salman pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai dia menghadap Rasulullah, kemudian baginda Rasulullah keluar bersama Salman menuju kebun yang dia tanami itu. Didekatkannya pohon (tunas) kurma itu kepada baginda dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan baginda. Maka, demi jiwa Salman yang berada di tanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.

Untuk tebusan pohon kurma sudah dipenuhi, Salman masih mempunyai tanggungan wang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas baginda bersabda, "Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?"

Kemudian Salman dipanggil baginda, lalu baginda bersabda, "Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!"
"Wahai Rasulullah saw., bagaimana status emas ini bagiku? Soalku inginkan kepastian daripada baginda.
"Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya."

Kemudian Salman menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di tanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian dia penuhi tebusan yang harus diserahkan kepada majikannya, dan Salman pun dimerdekakan.

Setelah itu, Salman turut serta bersama Rasulullah dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak dia ikuti.




Bagian Sebelumnya || Bagian Selanjutnya

--------------------- Bacaan Bermakna