07 November 2014

Kisah Salman Al Farisi Mencari Kebenaran Hakiki (Bagian 2)


Mereka salib jenazah uskup itu, kemudian mereka lempari dengan batu. Tidak lama sesudah itu, mereka angkat pendeta lain sebagai penggantinya. Salman pun kembali mengabdikan diri kepadanya. Belum pernah dia lihat orang yang lebih zuhud daripadanya. Dia sangat membenci dunia tetapi sangat cinta kepada akhirat. Dia rajin beribadat siang malam. Kerana itu Salman sangat menyukainya, dan lama tinggal bersamanya.




Ketika ajalnya sudah dekat, Salman bertanya kepadanya, “Wahai guru! Kepada siapa guru mempercayakanku seandainya guru meninggal. Dan dengan siapa aku harus berguru sepeninggalan guru?”
 “Hai, anakku! Tidak seorang pun yang aku tahu, melainkan seorang pendeta di Mosul, yang belum merubah dan menukar-nukar ajaran-ajaran agama yang murni. Hubungi dia di sana!”

Tatkala guru tersebut sudah meninggal, Salman pergi mencari pendeta yang tinggal di Mosul. Kepadanya, dia ceritakan pengalamannya dan pesan gurunya yang sudah meninggal itu.
Kata pendeta Mosul, “Tinggallah bersama saya.”

Salman tinggal bersamanya, dan Salman tahu ternyata dia pendeta yang baik. Ketika dia hampir meninggal, Salman kembali berkata kepada nya, “Sebagaimana guru ketahui, mungkin ajal guru sudah dekat. Kepada siapa guru mempercayai seandainya guru sudah tiada?”
“Hai, anakku! Demi Allah! Aku tak tahu orang yang seperti kami, kecuali seorang pendeta di Nasibin. Hubungilah dia!”

Dan ketika pendeta Mosul itu meninggal, Salman pergi menemui pendeta di Nasibin. Kepadanya Salman ceritakan pengalamannya serta pesan pendeta Mosul.
Kata pendeta Nasibin, “Tinggallah bersama kami!”

Setelah Salman tinggal di sana, ternyata pendeta Nasibin itu memang baik. Salman mengabdi dan belajar dengannya sehinggalah beliau wafat. Namun ketika ajalnya sudah dekat, Slaman kembali berkata kepadanya, “Guru sudah tahu perihalku maka kepada siapa harusku berguru seandainya guru meninggal?”
“Hai, anakku! Aku tidak tahu lagi pendeta yang masih memegang teguh agamanya, kecuali seorang pendeta yang tinggal di Amuria. Hubungilah dia!”

Salman pun pergi menghubungi pendeta di Amuria itu. Dia ceritakan kepada pendeta itu pengalamannya selama ini.
Kata pendeta itu, “Tinggallah bersama kami!

Dengan petunjuknya, Salman tinggal di sana sambil mengembala kambing dan sapi. Setelah gurunya sudah dekat pula ajalnya, dia kembali berkata, “Guru sudah tahu urusanku. Maka kepada siapakah lagi aku akan anda percayai seandainya guru meninggal dan apakah yang harus kuperbuat?”
“Hai, anakku! Setahuku tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang berpegang teguh dengan agama yang murni seperti kami. Tetapi sudah hampir tiba masanya, di tanah Arab akan muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahim.
Kemudian dia akan berpindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua bukit berbatu hitam. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas. Dia mau menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mahu menerima dan memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian. Jika engkau sanggup pergilah ke negeri itu dan temuilah dia!”

Setelah pendeta Amuria itu wafat, Salman masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu waktu segerombolan saudagar Arab dan kabilah “Kalb” lewat di sana. Salman berkata kepada mereka, “Jika kalian mau membawaku ke negeri Arab, aku berikan kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku.”
“Baiklah! Kami bawa engkau ke sana.”

Maka diberikanlah kepada mereka semua sapi dan kambing peliharaan Salman, semuanya. Sesampainya mereka di Wadil Qura, ternyata mereka metipu Salman. Dia dijual kepada seorang Yahudi. Maka dengan terpaksa, Salman pergi dengan Yahudi itu dan berkhidmat kepadanya sebagai hamba. Pada suatu hari anak saudara majikan Salman datang mengunjunginya. Dia adalah seorang Yahudi Bani Quraizhah. Singkat cerita, Salman dibeli olehnya.


Bagian Sebelumnya || Bagian Selanjutnya

--------------------- Bacaan Bermakna