Dalam hadist Rasulullah, diceritakan bahwa Salman Al Farisi adalah seorang pemuda Parsi berasal dari desa Jayyan. Bapaknya merupakan orang nomer satu di desanya, seorang pemimpin desa. Selain itu, dia juga merupakan orang terkaya dan berkedudukan tinggi di desa tersebut. Salman sendiri sangat disayangi oleh ayahnya sejak lahir. Kasih sayang beliau semakin bertambah seiring bertambahnya usia Salman. Saking sayangnya, Salman dijaga di rumah seperti anak gadis.
“Demi Tuhan! ini lebih bagus daripada agama kami," katanya.
Salman bertanya kepada mereka, “Dari mana asal agama ini?”
“Dari Syam (Syria),” jawab mereka.
Sesampainya di rumah setelah senja, Salman ditanya oleh bapaknya perihal kebun yang seharusnya dia jaga. Jawabnya, “Wahai, Bapak! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku kagum melihat mereka sembahyang. Belum pernah aku melihat cara orang sembahyang seperti itu. Kerana itu aku berada di gereja mereka sampai petang.”
“Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!”
“Tidak! Demi Tuhan! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita.”
Mendengar ucapan Salman, sang Bapak khawatir kalau dia murtad dari agama Majusi yang mereka anuti. Sampai-sampai dia dikurung dan kakinya dibelenggu dengan rantai.
namun, Slaman masih ingin tahu lebih banyak tentang agama Nasrani. Ketika memperoleh kesematan, dia mengirim surat kepada orang-orang Nasrani meminta tolong kepada mereka untuk memberitahu jikalau ada kafilah yang akan ke Syam. Tidak berapa lama kemudian, Salman diberitahu bahwa ada sekelompok kafilah yang hendak pergi ke Syam.
Salman berusaha untuk membebaskan diri dari rantai yang membelengunya dan melarikan diri bersama kafilah tersebut ke Syam.
Sampai di sana, Salman bertanya kepada mereka, “Siapa kepala agama Nasrani di sini?”
“Uskup yang menjaga,” jawab mereka.
Mendapat jawaban tersebut, Salman pun menemui Uskup seraya berkata kepadanya, “Aku tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menadi pelayan anda sambil belajar agama dan sembahyang bersama-sama anda.”
“Masuklah!” kata Uskup.
Setelah beberapa lama Salman berbakti kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang jahat. Dia menganjurkan jama’ahnya bersedekah dan mendorong umatnya beramal pahala. Bila sedekah mereka telah terkumpul, disimpannya saja dalam perbendaharaannya dan tidak dibagi-bagikannya kepada fakir miskin. Sehingga, kekayaannya telah berkumpul sebanyak tujuh peti emas.
Salman sangat membencinya kerana perbuatannya yang mengambil kesempatan untuk mengumpul harta dengan uang sedekah kaumnya. Namun, tidak lama kemudian uskup itu meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul hendak menguburkannya.
Dengan lantang, Salman berkata kepada mereka, “Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akan kalian peroleh. Tapi bila kalian berikan sedekah kepadanya disimpannya saja untuk dirinya, tidak satupun yang diberikannya kepada fakir miskin.”
“Bagaimana kamu tahu demikian?”
“Akan kutunjukkan kepada kalian simpanannya.”
“Ya, tunjukkanlah kepada kami!”
Maka diperlihatkan kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh peti, penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka berkata, “Demi Tuhan! Jangan dikuburkan dia!”
Salman adalah seorang Majusi yang merupakan agama yang dianut mayoritas
penduduk desa. Dia ditugaskan untuk menjaga api penyembahan masyarakat supaya
api tersebut sentiasa menyala.
Ayah Salman memiliki kebun yang sangat luas dengan hasil yang juga banyak. Beliau menetap di sana untuk mengawasi serta memungut hasilnya. Pada suatu hari, beliau pulang ke desa untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Beliau berkata kepada anaknya Salman, “Hai anakku! Bapak sekarang sangat sibuk. Kerana itu pergilah engkau mengurus kebun kita hari ini menggantikan Bapak.’’
Menuruti bapaknya, Salman pergi ke kebun. Dalam perjalanan ke sana, dia melalui sebuah gereja Nasrani. Beberapa orang di dalamnya sedang sembahyang. Suara mereka sangat menarik perhatian Salman. Namun, di samping itu, Salman sebenarnya belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Hal ini tidak mengheranan karena Salman selalu di rumah sejak kecil. Mendengar suara mereka yang sedang bersembahyang, dia tertarik untuk masuk ke gereja. Seketika itu, dia kagum dengan cara mereka bersembahyang. Saking asyiknya, dia sampai lupa untuk berkebun.
Ayah Salman memiliki kebun yang sangat luas dengan hasil yang juga banyak. Beliau menetap di sana untuk mengawasi serta memungut hasilnya. Pada suatu hari, beliau pulang ke desa untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Beliau berkata kepada anaknya Salman, “Hai anakku! Bapak sekarang sangat sibuk. Kerana itu pergilah engkau mengurus kebun kita hari ini menggantikan Bapak.’’
Menuruti bapaknya, Salman pergi ke kebun. Dalam perjalanan ke sana, dia melalui sebuah gereja Nasrani. Beberapa orang di dalamnya sedang sembahyang. Suara mereka sangat menarik perhatian Salman. Namun, di samping itu, Salman sebenarnya belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Hal ini tidak mengheranan karena Salman selalu di rumah sejak kecil. Mendengar suara mereka yang sedang bersembahyang, dia tertarik untuk masuk ke gereja. Seketika itu, dia kagum dengan cara mereka bersembahyang. Saking asyiknya, dia sampai lupa untuk berkebun.
“Demi Tuhan! ini lebih bagus daripada agama kami," katanya.
Salman bertanya kepada mereka, “Dari mana asal agama ini?”
“Dari Syam (Syria),” jawab mereka.
Sesampainya di rumah setelah senja, Salman ditanya oleh bapaknya perihal kebun yang seharusnya dia jaga. Jawabnya, “Wahai, Bapak! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku kagum melihat mereka sembahyang. Belum pernah aku melihat cara orang sembahyang seperti itu. Kerana itu aku berada di gereja mereka sampai petang.”
“Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!”
“Tidak! Demi Tuhan! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita.”
Mendengar ucapan Salman, sang Bapak khawatir kalau dia murtad dari agama Majusi yang mereka anuti. Sampai-sampai dia dikurung dan kakinya dibelenggu dengan rantai.
namun, Slaman masih ingin tahu lebih banyak tentang agama Nasrani. Ketika memperoleh kesematan, dia mengirim surat kepada orang-orang Nasrani meminta tolong kepada mereka untuk memberitahu jikalau ada kafilah yang akan ke Syam. Tidak berapa lama kemudian, Salman diberitahu bahwa ada sekelompok kafilah yang hendak pergi ke Syam.
Salman berusaha untuk membebaskan diri dari rantai yang membelengunya dan melarikan diri bersama kafilah tersebut ke Syam.
Sampai di sana, Salman bertanya kepada mereka, “Siapa kepala agama Nasrani di sini?”
“Uskup yang menjaga,” jawab mereka.
Mendapat jawaban tersebut, Salman pun menemui Uskup seraya berkata kepadanya, “Aku tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menadi pelayan anda sambil belajar agama dan sembahyang bersama-sama anda.”
“Masuklah!” kata Uskup.
Setelah beberapa lama Salman berbakti kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang jahat. Dia menganjurkan jama’ahnya bersedekah dan mendorong umatnya beramal pahala. Bila sedekah mereka telah terkumpul, disimpannya saja dalam perbendaharaannya dan tidak dibagi-bagikannya kepada fakir miskin. Sehingga, kekayaannya telah berkumpul sebanyak tujuh peti emas.
Salman sangat membencinya kerana perbuatannya yang mengambil kesempatan untuk mengumpul harta dengan uang sedekah kaumnya. Namun, tidak lama kemudian uskup itu meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul hendak menguburkannya.
Dengan lantang, Salman berkata kepada mereka, “Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akan kalian peroleh. Tapi bila kalian berikan sedekah kepadanya disimpannya saja untuk dirinya, tidak satupun yang diberikannya kepada fakir miskin.”
“Bagaimana kamu tahu demikian?”
“Akan kutunjukkan kepada kalian simpanannya.”
“Ya, tunjukkanlah kepada kami!”
Maka diperlihatkan kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh peti, penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka berkata, “Demi Tuhan! Jangan dikuburkan dia!”
Bagian Sebelumnya || Bagian Selanjutnya
--------------------- Bacaan Bermakna