Peristiwa besar di
bulan Ramadhan selain Perang Badar yang juga menorehkan sejarah besar dalam
perjalanan umat Islam adalah Fathu Makkah atau peristiwa penaklukkan kota
Mekah. Fathu Makkah disebabkan karena pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang
Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah.
Pada hakikatnya, salah
satu poin perjanjian Hudaibiyah tersebut adalah, “Barangsiapa yang ingin masuk
ke kelompok Rasulullah, maka dipersilahkan bergabung dan yang ingin bergabung
dengan orang-orang Mekah juga dipersilahkan bergabung. Kabilah manapun yang
bergabung dengan salah satu kelompok ini, maka ia adalah sekutu dari kelompok
tersebut. Dan permusuhan yang ditujukan kepada kabilah-kabilah tersebut, dianggap
permusuhan terhadap kelompok tersebut.”
Sesuai dengan
perjanjian, Bani Khuza’ah masuk ke kelompok Rasulullah dan Bani Bakr bergabung
dengan orang-orang Quraisy lainnya. Pada kenyataannya, Bani Bakr justru
memanfaatkan kondsi damai ini untuk menyerang Bani Khuza’ah. Tujuannya adalah agar
mereka bisa membunuh orang-orang Khuza’ah tanpa harus menerima perlawanan. Di
suatu malam, Bani Bakr mulai keluar dan menuju tempat Bani Khuza’ah. Mereka terus
memburu Bani Khuza’ah. Sampai-sampai orang-orang Khuza’ah berlari ke tanah
haram untuk mencari perlindungan.
Salah seorang dari
Bani Bakr menyeru pemimpinnya yang bernama Naufal, “Wahai Naufal, sesungguhnya
kita memasuki tanah haram. Ingatlah Tuhanmu, Tuhanmu.”
Naufal malah
menjawab, “Wahai Bani Bakr, tidak ada Tuhan pada hari ini! Balaskan dendam
kalian! Aku bersumpah, kalau perlu kalian boleh mencuri di tanah haram. Tunggu
apa lagi, balaskan dendam kalian di dalam tanah haram!”
Dan seketika itu terjadilah
pembantaian di tanah haram. Peristiwa ini merupakan sebuah pelanggaran terhadap
perjanjian damai Hudaibiyah yang telah disepakati. Perjanjian damai itu telah
dirobek-robek oleh orang-orang Quraisy. Mereka membiarkan sekutu mereka
membantai sekutu Nabi Muhammad saw. Sehingga sampailah kabar tersebut ke
telinga Rasulullah. Beliau pun memenuhi janjinya terhadap sekutunya, Bani Khuza’ah.
Abu Sufyan datang ke
Madinah untuk menemui Rasulullah. Pada waktu itu Abu Sufyan merupakan perwakilan
orang kafir Quraiys. Abu Sufyan memohon agar Rasulullah mau memaafkan
penghianatan tersebut. Setelah ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah, Abu Sufyan
datang menemui istri Rasulullah yang juga merupakan anak kandungnya, Ummu
Habibah binti Abu Sufyan, agar mau melobi Rasulullah. Ternyata Ummu Habibah pun
tegas menolak keinginan sang ayah.
Abu Sufyan terus
melobi orang-orang dekat Rasulullah seperti Abu Bakar, Umar, dan Ali bin Abi
Thalib dan meminta mereka agar melobi Rasulullah untuk mengurungkan niat
menyerang Mekah. Namun, tak satupun dari mereka yang bisa memberikan solusi
bagi Abu Sufyan. Ia pun segera pulang ke Mekah dan membawa kabar genting bahwa
Muhammad akan menyerang Mekah. Setelah sepuluh hari di lebih bulan Ramadhan
tahun 8 H, Rasulullah berangkat ke Mekah bersama 10.000 orang sahabat. Di
tengah perjalanan, anggota pasukan Rasulullah bertambah, karena beberapa
kelompok orang Quraiys bergabung. Sementara itu, Abu Sufyan dan dua orang
kawannya menjadi tawanan kamu muslimin. Dan lalu Abu Sufyan masuk Islam.
Tidak ada satu pun
orang kafir Quraisy yang mengetahui keberangkatan beliau dan pasukannya menuju
Mekah. Seluruh pasukan muslim memasuki Mekah melalui jalur-jalur yang telah
direncanakan sebelumnya. Penduduk Mekah pun sangat terkejut dengan kedatangan
kaum muslimin yang tidak mereka ketahui. Mereka yang sudah takut sebelumnya pun
semakin takut. Seseorang dari pasukan Muslimin yang bernama Abbas membisikkan
kepada Nabi agar nanti memberikan sesuatu yang dapat menyenangkan Abu Sufyan.
Nabi mengatakan, “Siapa saja yang masuk rumah Abu Sofyan, maka dia aman.”
Setelah sampai di
Mekkah, diumumkanlah, “Siapa yang masuk ke rumahnya dan mengunci pintu, maka
dia aman. Siapa yang masuk masjid (Ka’bah), maka dia aman. Dan siapa saja yang
masuk rumah Abu Sofyan, maka dia aman.”
Akhirnya Mekah pun
ditaklukkan. Rasulullah dan para sahabat memasuki kampung halaman mereka yang
telah lama mereka tinggalkan. Fathu Makkah terlaksana tanpa mendapat perlawanan
yang berarti dari para penduduknya. Nabi terus menghancurkan patung-patung yang
berjumlah sekitar 360 buah di dalam dan di luar Ka’bah dan dilanjutkan dengan
thawaf.
Setelah melakukan
shalat dua rakaat, berdirilah Nabi di pintu Ka’bah seraya mengatakan, “Wahai
seluruh orang Quraisy, bagaimanakah tanggapanmu terhadap apa yang saya lakukan
ini?”
“Engkau telah
melakukan sesuatu yang baik. Engkau adalah seorang yang mulia. Engkaulah
saudara kami yang paling baik.”
“Pada hari ini
saya nyatakan kepadamu, seperti yang pernah dinyatakan oleh Nabi Yusuf yang
terdahulu. Tidak ada apa-apa lagi pada hari ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni
dosa-dosa yang telah kamu lakukan selama ini. Bubarlah kalian, karena kalian
telah dibebaskan.”
--------------------- Bacaan Bermakna