Aisyah adalah istri Nabi yang memiliki satu keistimewaan di hati Nabi yang tidak dimiliki oleh istri-istri Nabi yang lain. Beliau adalah istri yang paling disayangi Nabi. Bahkan istri Nabi yang lain pun sempat merasakan cemburu terhadapnya. Namun, Nabi tetap bisa berbuat adil terhadap kesemua istrinya.
Aisyah tinggal di sebuah kamar di samping Masjid Nabawi. Di sanalah wahyu banyak turun. Kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu. Dalam kesehariannya, Aisyah sangat memperhatikan sesuatu yang bisa menyenangkan hati Rasul. Beliau benar-benar menjaga agar jangan sampai Rasul menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Dihari gilirannya, ia senantiasa mengenakan pakaian yang bagus dan berhias untuk Rasulullah. Begitu sayangnya Rasul terhadap Aisyah, bahkan menjelang wafat, beliau meminta ijin kepada istri-istrinya untuk beristirahat di kamar Aisyah selama sakitnya. Aisyah berkata, “Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di pangkuanku.”
Dalam suatu hadist, Rasulullah
pernah ditanya oleh Amru bin ‘Aash, “Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”
Beliau
menjawab, “Aisyah!”
Amru
bertanya lagi, “Dan dari kalangan laki-laki?”
Beliau
menjawab, “Ayahnya (Abu Bakar)!”
Sebagai istri
yang begitu dicintai Nabi, Aisyah pernah suatu ketika difitnah selingkuh dari
Nabi. Suatu ketika, Rasul hendak pergi berperang. Seperti biasanya, Rasulullah mengundi istrinya yang akan
menyertainya berperang. Pada kali itu, undian jatuh pada Aisyah. Secara kebetulan,
saat itu bertepatan dengan turunnya perintah memakai hijab. Singkat cerita,
perang telah usai dengan kemenangan di tangan kaum muslimin.
Rasulullah dan kaum muslimin kembali
ke Madinah. Pada waktu mereka beristirahat ditengah perjalanan, Aisyah keluar
dari sekedup untanya untuk menunaikan hajatnya dan kembali. Tiba-tiba beliau
teringat bahwa kalung di lehernya jatuh dan hilang, sehingga dia keluar dan
sekedup dan mencari-cari kalungnya yang hilang. Ketika itu pula, pasukan Islam
melanjutkan perjalanan mereka. Mereka benar-benar tidak menyadari bahwa sekedup
yang mereka angkat ternyata kosong. Ketika Aisyah berniat kembali ke pasukannya,
betapa kagetnya dia karena tidak ada seorang pun yang dia temukan. Namun beliau
tidak meninggalkan tempat itu, berharap para penuntun unta akan menyadari
ketiadaannya dan kembali menjemputnya.
Apa yang diharapkan Aisyah
tidak terjadi. Karena kelelahan, beliau pun tertidur. Ketika Aisyah tertidur,
lewatlah Shafwan bin Mu’thil yang terheran-heran melihatnya. Dia pun
mempersilakan Aisyah menunggangi untanya dan dia menuntun di depannya. Karena kejadian
inilah, fitnah itu timbul, yang disulut oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.
Beberapa saat kemudian, Aisyah
memasuki rumah dan didapatinya sang suami sedang duduk sendirian. Aisyah
sendiri belum mengetahui kabar yang tersiar tentang dirinya. Aisyah pun merasa
gundah karena sikap Rasul yang berubah terhadapnya. Ketika hendak bicara, Rasul
malah berpaling darinya.
Kesedihan hati Aisyah semakin
bertambah hingga ia jatuh sakit. Beliau meminta ijin pada Rasul untuk pulang ke
rumah orang tuangya, dan Rasul memberikan ijin. Ketika beliau berada di rumah
kedua orang tuanya, berita itu akhirnya sampai juga ke telinga Aisyah. Sejak saat
itu, Aisyah selalu mengurung diri di dalam rumah.
Suatu hari, Rasul berkunjung
ke rumah mertuanya dan disambut baik oleh keluarga Abu Bakar kecuali Aisyah
yang sedang dirundung sedih. Rasulullah kemudian duduk di hadapan Aisyah seraya
berkata, “Wahai Aisyah, berita itu rupanya telah sampai pula kepadamu. Jika
engkau benar-benar suci, niscaya Allah akan menyucikanmu. Akan tetapi, jika
engkau telah berbuat dosa, bertobatlah dengan penuh penyesalan, niscaya Allah
akan mengampuni dosamu.”
Disertai isak tangis yang
semakin menjadi, Aisyah menjawab, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau telah
mendengar kabar ini, dan ternyata engkau mempercayainya. Seandainya aku katakan
bahwa aku tetap suci pun, niscaya hanya Allahlah yang mengetahui kesucianku,
dan tentunya engkau tak akan mempercayaiku. Akan tetapi, jika aku mengakui
perbuatan itu, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tetap suci, maka kau akan
mempercayai perkataanku. Aku hanya dapat mengatakan apa yang dikatakan Nabi
Yusuf, ‘Maka bersabar itu lebih baik’. Dan Allah pula yang akan menolong atas
apa yang engkau gambarkan.”
Selang beberapa saat, Rasul
merasakan tanda diturunkannya wahyu. Setelah beliau sadar, beliau lantas
berkata, “Hai Aisyah, Allah telah menyucikanmu dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang
membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira
bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.
tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya.
dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran
berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur:11)
Bertambahlah kecintaan Rasul
pada Aisyah.
--------------------- Bacaan Bermakna