01 Mei 2014

Ketika Aisyah, Istri Kesayangan Nabi, Difitnah Selingkuh

Aisyah adalah istri Nabi yang memiliki satu keistimewaan di hati Nabi yang tidak dimiliki oleh istri-istri Nabi yang lain. Beliau adalah istri yang paling disayangi Nabi. Bahkan istri Nabi yang lain pun sempat merasakan cemburu terhadapnya. Namun, Nabi tetap bisa berbuat adil terhadap kesemua istrinya.

Aisyah tinggal di sebuah kamar di samping Masjid Nabawi. Di sanalah wahyu banyak turun. Kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu. Dalam kesehariannya, Aisyah sangat memperhatikan sesuatu yang bisa menyenangkan hati Rasul. Beliau benar-benar menjaga agar jangan sampai Rasul menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Dihari gilirannya, ia senantiasa mengenakan pakaian yang bagus dan berhias untuk Rasulullah. Begitu sayangnya Rasul terhadap Aisyah, bahkan menjelang wafat, beliau meminta ijin kepada istri-istrinya untuk beristirahat di kamar Aisyah selama sakitnya. Aisyah berkata, “Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di pangkuanku.”


Dalam suatu hadist, Rasulullah pernah ditanya oleh Amru bin ‘Aash, “Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”
Beliau menjawab, “Aisyah!”
Amru bertanya lagi, “Dan dari kalangan laki-laki?”
Beliau menjawab, “Ayahnya (Abu Bakar)!”

Sebagai istri yang begitu dicintai Nabi, Aisyah pernah suatu ketika difitnah selingkuh dari Nabi. Suatu ketika, Rasul hendak pergi berperang. Seperti biasanya, Rasulullah mengundi istrinya yang akan menyertainya berperang. Pada kali itu, undian jatuh pada Aisyah. Secara kebetulan, saat itu bertepatan dengan turunnya perintah memakai hijab. Singkat cerita, perang telah usai dengan kemenangan di tangan kaum muslimin.

Rasulullah dan kaum muslimin kembali ke Madinah. Pada waktu mereka beristirahat ditengah perjalanan, Aisyah keluar dari sekedup untanya untuk menunaikan hajatnya dan kembali. Tiba-tiba beliau teringat bahwa kalung di lehernya jatuh dan hilang, sehingga dia keluar dan sekedup dan mencari-cari kalungnya yang hilang. Ketika itu pula, pasukan Islam melanjutkan perjalanan mereka. Mereka benar-benar tidak menyadari bahwa sekedup yang mereka angkat ternyata kosong. Ketika Aisyah berniat kembali ke pasukannya, betapa kagetnya dia karena tidak ada seorang pun yang dia temukan. Namun beliau tidak meninggalkan tempat itu, berharap para penuntun unta akan menyadari ketiadaannya dan kembali menjemputnya.

Apa yang diharapkan Aisyah tidak terjadi. Karena kelelahan, beliau pun tertidur. Ketika Aisyah tertidur, lewatlah Shafwan bin Mu’thil yang terheran-heran melihatnya. Dia pun mempersilakan Aisyah menunggangi untanya dan dia menuntun di depannya. Karena kejadian inilah, fitnah itu timbul, yang disulut oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.

Beberapa saat kemudian, Aisyah memasuki rumah dan didapatinya sang suami sedang duduk sendirian. Aisyah sendiri belum mengetahui kabar yang tersiar tentang dirinya. Aisyah pun merasa gundah karena sikap Rasul yang berubah terhadapnya. Ketika hendak bicara, Rasul malah berpaling darinya.

Kesedihan hati Aisyah semakin bertambah hingga ia jatuh sakit. Beliau meminta ijin pada Rasul untuk pulang ke rumah orang tuangya, dan Rasul memberikan ijin. Ketika beliau berada di rumah kedua orang tuanya, berita itu akhirnya sampai juga ke telinga Aisyah. Sejak saat itu, Aisyah selalu mengurung diri di dalam rumah.

Suatu hari, Rasul berkunjung ke rumah mertuanya dan disambut baik oleh keluarga Abu Bakar kecuali Aisyah yang sedang dirundung sedih. Rasulullah kemudian duduk di hadapan Aisyah seraya berkata, “Wahai Aisyah, berita itu rupanya telah sampai pula kepadamu. Jika engkau benar-benar suci, niscaya Allah akan menyucikanmu. Akan tetapi, jika engkau telah berbuat dosa, bertobatlah dengan penuh penyesalan, niscaya Allah akan mengampuni dosamu.”

Disertai isak tangis yang semakin menjadi, Aisyah menjawab, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau telah mendengar kabar ini, dan ternyata engkau mempercayainya. Seandainya aku katakan bahwa aku tetap suci pun, niscaya hanya Allahlah yang mengetahui kesucianku, dan tentunya engkau tak akan mempercayaiku. Akan tetapi, jika aku mengakui perbuatan itu, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tetap suci, maka kau akan mempercayai perkataanku. Aku hanya dapat mengatakan apa yang dikatakan Nabi Yusuf, ‘Maka bersabar itu lebih baik’. Dan Allah pula yang akan menolong atas apa yang engkau gambarkan.”

Selang beberapa saat, Rasul merasakan tanda diturunkannya wahyu. Setelah beliau sadar, beliau lantas berkata, “Hai Aisyah, Allah telah menyucikanmu dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur:11)
Bertambahlah kecintaan Rasul pada Aisyah.



--------------------- Bacaan Bermakna