Pasca terbunuhnya Habil, Nabi Adam merasakan kesedihan yang tiada tara. Tangisnya bertahun-tahun tak terhenti. Hingga akhirnya Allah SWT mengaruniainya seorang anak yang berbakti sebagai pengganti Habil. Anak itu diberi nama Syist, yang artinya adalah pemberian Allah SWT.
Lalu para malaikat
mencabut nyawanya. Mereka sendiri juga lah yang mengurusi segala keperluan
jenazahnya dan penguburannya, sementara anak-anak Adam melihat mereka. Para
malaikat itu memberikan contoh bagaimana seharusnya penguburan yang benar. Pertama-tama
mereka memandikan jenazah Adam, kemudian mengkafaninya, memberinya
wangi-wangian, menggali kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke
kuburnya, meletakkannya di dalamnya, lalu mereka menutupnya dengan bata.
Kemudian mereka keluar dari kubur dan untuk tahap terakhir, mereka menimbunkan
tanah diatas kuburnya. "Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian."
Kepada Syist lah Nabi Adam memberikan segala
ilmu yang diraihnya. Bahkan ketika akan meninggal, Nabi Adam berwasiat
kepada Syist untuk menggantikannya dalam memimpin anak keturunannya beribadah
pada Allah SWT. Dia juga diberi shuhuf (lembaran-lembaran wahyu dari
Allah). Semua manusia silsilah keturunannya berasal dari Syist, sedang anak
Nabi Adam yang tidak ditemukan keturunannya.
Adapun Qabil pergi
lari bersama saudara kembarnya ke daerah Adnan di Yaman. Iblis mendatangi
mereka dan berkata, “Sesungguhnya kurban saudaramu dimakan api itu karena ia
menyembah api, maka buatlah tungku dan sembahlah api! Hal itu akan bermanfaat
bagimu dan keturunanmu.” Qabil mempercayainya dan selanjutnya dia membangun
rumah penyembahan api. Wallahu a’alm.
Dalam umurnya yang
ke-960 tahun, Nabi Adam sudah memiliki banyak keturunan. Tibalah saatnya Nabi
Adam kembali pada Rabbnya. Ketika hampir tiba saatnya, Adam berkata pada anak-anaknya,
“Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah surga.” Lalu anak-anaknya pergi
mencarikan buah surga untuknya. Adam yakin bahwa anak-anaknya tidak akan mungkin
mampu memenuhi permintaannya. Begitu pun dengan anak-anak Adam. Mereka juga
menyadari akan hal itu. Akan tetapi, mereka terus mencarinya karena rasa bakti
mereka kepada bapak mereka.
Dalam perjalanan,
mereka disambut oleh para malaikat yang menjelma dalam wujud orang laki-laki. Mereka
telah membawa kafan untuk Adam lengkap dengan wewangiannya. Mereka juga membawa kapak,
sekop, dan cangkul. Alat-alat itulah yang hingga kini lazim digunakan untuk
menggali kubur.
“Wahai anak-anak
Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?”
“Bapak kami sakit,
dia ingin makan buah dari surga.”
“Pulanglah, karena
ketetapan untuk bapak kalian telah tiba.”
Maka datanglah
malaikat-malaikat itu pada Adam. Ketika itu, Hawa mengenalinya. Dia berlindung
kepada Adam. Hawa membujuk suaminya agar memilih hidup di dunia, karena ketika para
rasul hendak dicabut, terlebih dulu akan disuguhkan pilihan untuk memilih tetap
di dunia atau tidak. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah
Shallallahu Alahi wa Sallam dalam hadistnya.
Adam tidak
menggubris bujukan istrinya dan berkata, “Pergilah engkau dariku, sungguh aku
diciptakan sebelummu. Biarkan nyawaku dicabut oleh para malaikat Rabbku.”
--------------------- Bacaan Bermakna