30 April 2014

Kisah Nabi Adam (Bagian 4): Nabi Syist dan Wafatnya Nabi Adam

Pasca terbunuhnya Habil, Nabi Adam merasakan kesedihan yang tiada tara. Tangisnya bertahun-tahun tak terhenti. Hingga akhirnya Allah SWT mengaruniainya seorang anak yang berbakti sebagai pengganti Habil. Anak itu diberi nama Syist, yang artinya adalah pemberian Allah SWT.



Kepada Syist lah Nabi Adam memberikan segala ilmu yang diraihnya. Bahkan ketika akan meninggal, Nabi Adam berwasiat kepada Syist untuk menggantikannya dalam memimpin anak keturunannya beribadah pada Allah SWT. Dia juga diberi shuhuf (lembaran-lembaran wahyu dari Allah). Semua manusia silsilah keturunannya berasal dari Syist, sedang anak Nabi Adam yang tidak ditemukan keturunannya.

Adapun Qabil pergi lari bersama saudara kembarnya ke daerah Adnan di Yaman. Iblis mendatangi mereka dan berkata, “Sesungguhnya kurban saudaramu dimakan api itu karena ia menyembah api, maka buatlah tungku dan sembahlah api! Hal itu akan bermanfaat bagimu dan keturunanmu.” Qabil mempercayainya dan selanjutnya dia membangun rumah penyembahan api. Wallahu a’alm.

Dalam umurnya yang ke-960 tahun, Nabi Adam sudah memiliki banyak keturunan. Tibalah saatnya Nabi Adam kembali pada Rabbnya. Ketika hampir tiba saatnya, Adam berkata pada anak-anaknya, “Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah surga.” Lalu anak-anaknya pergi mencarikan buah surga untuknya. Adam yakin bahwa anak-anaknya tidak akan mungkin mampu memenuhi permintaannya. Begitu pun dengan anak-anak Adam. Mereka juga menyadari akan hal itu. Akan tetapi, mereka terus mencarinya karena rasa bakti mereka kepada bapak mereka.

Dalam perjalanan, mereka disambut oleh para malaikat yang menjelma dalam wujud orang laki-laki. Mereka telah membawa kafan untuk Adam lengkap dengan  wewangiannya. Mereka juga membawa kapak, sekop, dan cangkul. Alat-alat itulah yang hingga kini lazim digunakan untuk menggali kubur.

“Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?”
“Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari surga.”
“Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba.”

Maka datanglah malaikat-malaikat itu pada Adam. Ketika itu, Hawa mengenalinya. Dia berlindung kepada Adam. Hawa membujuk suaminya agar memilih hidup di dunia, karena ketika para rasul hendak dicabut, terlebih dulu akan disuguhkan pilihan untuk memilih tetap di dunia atau tidak. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam hadistnya.

Adam tidak menggubris bujukan istrinya dan berkata, “Pergilah engkau dariku, sungguh aku diciptakan sebelummu. Biarkan nyawaku dicabut oleh para malaikat Rabbku.”

Lalu para malaikat mencabut nyawanya. Mereka sendiri juga lah yang mengurusi segala keperluan jenazahnya dan penguburannya, sementara anak-anak Adam melihat mereka. Para malaikat itu memberikan contoh bagaimana seharusnya penguburan yang benar. Pertama-tama mereka memandikan jenazah Adam, kemudian mengkafaninya, memberinya wangi-wangian, menggali kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke kuburnya, meletakkannya di dalamnya, lalu mereka menutupnya dengan bata. Kemudian mereka keluar dari kubur dan untuk tahap terakhir, mereka menimbunkan tanah diatas kuburnya. "Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian."


--------------------- Bacaan Bermakna