11 Mei 2014

10 Sahabat Ahli Surga (Bagian 10): Abu Ubaidah bin Jarrah

Abu Ubaidillah adalah cucu dari Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin al Harrits bin Fihr bin Malik. Beliau dilahirkan oleh Ummu Ghanm binti Jabir bin Abdul Uzza bin Amir bin Umairah bin Wadi’ah bin Al Harits bin Fihr. Bertemu silisilah keturunan dengan Rasulullah saw di Fihr bin Malik.

Abu Ubaidah masuk islam pada awal datangnya islam di Mekah, tepatnya pada saat sebelum Rasulullah saw masuk Darul Arqam. Beliau selalu turut serta dalam beberapa peperangan bersama Rasulullah saw, termasuk juga perang Badar.


Pada saat Perang Badar Abu Ubaidah membunuh ayahnya sendiri yang saat itu masih kafir. Karena peristiwa ini, turunlah ayat berikut:
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak- anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Pada saat Perang Uhud, beliau sangat berjasa bagi Rasulullah. Beliau mencabut dua gelang dari rajutan baju besi yang menancap di wajah Rasulullah saw dengan gigi depannya. Hal tersebut mengakibatkan tanggalnya 2 giginya

 
Abu Ubaidah bin Al Jarrah pada pandangan Rasulullah adalah sahabat yang benar-benar amanah. Rasulullah bersabda “ Setiap orang mempunyai orang yang setia dan orang yang paling setia bagi ummah ini adalah Abu Ubaidah Al Jarrah.”

Abu Ubaidah hanya memiliki dua putra yaitu Yazid dan Umar. Namun mereka berdua meninggal dan tak terdapat lagi penerus generasi Abu Ubaidah.

Wafatnya Abu Ubaidah disebabkan wabah penyakit tha’un amwas pada tahun 18 H pada saat usianya baru 58 tahun. Beliau dimakamkan di Ghour Baisan di Desa Amta’. Muadz bin Jabal dan Amr bin A’sh ikut menshalati jenazahnya. Sampai saat ini, makam beliau masih sering diziarahi oleh kaum Muslimin. 




--------------------- Bacaan Bermakna