Suatu ketika, dalam perjalanan Thalhah berniaga ke kota Bashra, beliau sempat bersua dengan seorang pendeta. Pendeta itu berkata bahwa Nabi yang telah diramalkan oleh para Nabi shaleh sebelumnya telah datang. Dia memperingatkan Thalhah agar jangan sampai ketinggalan kafilah Rasul itu.
Sewaktu
Thalhah tiba di Mekah, beliau mendengar percakapan tentang “Muhammad al-Amin”
dan tentang wahyu yang datang kepadanya. Beliau menanyakan kebenaran hal itu
pada Abu Bakar. Maka diketahuilah bahwa kabar itu benar adanya.
Thalhah berpikir,
“Muhammad saw. dan Abu Bakar, demi Allah, tak mungkin kedua orang ini akan
bersekongkol dalam kesesatan.” Beliau ditemani Abu Bakar pergi kepada
Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya.
Pada
perang Uhud, yang merupakan pembalasan dendam kamu kafir Qurays atas
kekalahannya di perang Badar, kekalahan sudah mulai tampak di pihak kaum
musyrikin. Sewaktu kaum muslimin menyadari tanda-tanda bahwa musuh mulai kalah,
mereka mulai meletakkna senjata dan memperebutkan harta rampasan perang dari
kaum musyrikin.
Tiba-tiba
sewaktu kaum muslimin memperebutkan harta rampasan dan lengah, pasukan Quraisy
menyerang kembali dari belakang hingga berhasil merebut menguasai kendali
pertempuran. Peperangan mulai berkecamuk lagi dengan segala kekejaman dan
kedahsyatannya. Serangan mendadak yang tiba-tiba itu mengkucar-kacirkan barisan
Kaum Muslimin.
Thalhah
memperhatikan daerah peperangan tempat Rasulullah saw berdiri. Dilihatnya
Rasulullah menjadi sasaran empuk serbuan pasukan penyembah berhala dan musyrik,
maka beliau pun dengan cepat segera ke arah Rasul. Setiap jengkalnya, Thalhah
dihadang puluhan pedang yang bersilang dan tombak-tombak musuh. Dari jauh
dilihatnya Rasulullah saw bercucuran darah dari pipinya, sedang beliau menahan
kesakitan yang amat sangat. Thalhah naik pitam dan berang melihat hal tersebut,
lalu dengan satu atau dua lompatan dahsyat dari kudanya, beliau berdiri di
hadapan Rasul. Pedang-pedang musyrikin menyambar-nyambar ke arah Rasul, mengepung
dan hendak membinasakannya. Thalhah berdiri kukuh, dan mengayunkan pedangnya
yang ampuh ke kiri dan ke kanan. Diraihnya Nabi dengan tangan kiri dan didekapnya,
sedang tangan kanannya mengayun-ayunkan pedangnya bagaikan kilat menusuk
dan menyabet orang-orang musyrik yang hendak mengerumuni Rasul. Hari Uhud
adalah Hari Thalhah.
Rasulullah
saw pernah bersabda kepada Thalhah, “Siapa yang suka melihat
seorang laki-laki yang masih berjalan di muka bumi, padahal ia telah
memberikan nyawanya, maka hendaklah ia memandang Thalhah.” Mendeangar
hal itu, tenanglah hati Thalhah. Beliau telah digembirakan Rasul akan beroleh
surga.
--------------------- Bacaan Bermakna