12 Mei 2014

Sang Pahlawan Perang Uhud: Thalhah bin Ubaidillah

Suatu ketika, dalam perjalanan Thalhah berniaga ke kota Bashra, beliau sempat bersua dengan seorang pendeta. Pendeta itu berkata bahwa Nabi yang telah diramalkan oleh para Nabi shaleh sebelumnya telah datang. Dia memperingatkan Thalhah agar jangan sampai ketinggalan kafilah Rasul itu.



Sewaktu Thalhah tiba di Mekah, beliau mendengar percakapan tentang “Muhammad al-Amin” dan tentang wahyu yang datang kepadanya. Beliau menanyakan kebenaran hal itu pada Abu Bakar. Maka diketahuilah bahwa kabar itu benar adanya.

Thalhah berpikir, “Muhammad saw. dan Abu Bakar, demi Allah, tak mungkin kedua orang ini akan bersekongkol dalam kesesatan.” Beliau ditemani Abu Bakar pergi kepada Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya.

Pada perang Uhud, yang merupakan pembalasan dendam kamu kafir Qurays atas kekalahannya di perang Badar, kekalahan sudah mulai tampak di pihak kaum musyrikin. Sewaktu kaum muslimin menyadari tanda-tanda bahwa musuh mulai kalah, mereka mulai meletakkna senjata dan memperebutkan harta rampasan perang dari kaum musyrikin.

Tiba-tiba sewaktu kaum muslimin memperebutkan harta rampasan dan lengah, pasukan Quraisy menyerang kembali dari belakang hingga berhasil merebut menguasai kendali pertempuran. Peperangan mulai berkecamuk lagi dengan segala kekejaman dan kedahsyatannya. Serangan mendadak yang tiba-tiba itu mengkucar-kacirkan barisan Kaum Muslimin.

Thalhah memperhatikan daerah peperangan tempat Rasulullah saw berdiri. Dilihatnya Rasulullah menjadi sasaran empuk serbuan pasukan penyembah berhala dan musyrik, maka beliau pun dengan cepat segera ke arah Rasul. Setiap jengkalnya, Thalhah dihadang puluhan pedang yang bersilang dan tombak-tombak musuh. Dari jauh dilihatnya Rasulullah saw bercucuran darah dari pipinya, sedang beliau menahan kesakitan yang amat sangat. Thalhah naik pitam dan berang melihat hal tersebut, lalu dengan satu atau dua lompatan dahsyat dari kudanya, beliau berdiri di hadapan Rasul. Pedang-pedang musyrikin menyambar-nyambar ke arah Rasul, mengepung dan hendak membinasakannya. Thalhah berdiri kukuh, dan mengayunkan pedangnya yang ampuh ke kiri dan ke kanan. Diraihnya Nabi dengan tangan kiri dan didekapnya, sedang tangan kanannya  mengayun-ayunkan pedangnya bagaikan kilat menusuk dan menyabet orang-orang musyrik yang hendak mengerumuni Rasul. Hari Uhud adalah Hari Thalhah.

Rasulullah saw pernah bersabda kepada Thalhah, “Siapa yang suka melihat seorang laki-laki yang masih berjalan di muka bumi,  padahal ia telah memberikan nyawanya, maka hendaklah ia memandang Thalhah.” Mendeangar hal itu, tenanglah hati Thalhah. Beliau telah digembirakan Rasul akan beroleh surga.




--------------------- Bacaan Bermakna