Seusai menjalankan sholat Isya’
di masjid, si penjahit berkata kepada mereka yang hadir, “Marilah kita
bersama-sama menuju musuh Allah yaitu lelaki berkebangsaan Turki agar dia tidak
melakukan perbuatan keji dan membebaskan wanita yang disekapnya.
Sekelompok orang, termasuk si penjahit, mendatangi rumah lelaki itu dan membuat keributan. Tak seberapa lama, beberapa pembantu lelaki itu keluar dan langsung menuju si penjahit. Mereka memukulinya sampai dia hampir kehilangan nyawanya. Kemudian beberapa tetangga si penjahit membawanya pulang. Sesampainya di rumah, dia dirawat oleh keluarganya. Saat tengah malam, penjahit itu terbangun karena kesakitan.
Dalam hati dia berkata, “Lelaki
Turki itu mabuk-mabukkan sapanjang malam dan lupa waktu, jika aku
mengumandangkan adzan, pasti dia menyangka bahwa fajar telah menyingsing, dan
dia akan membebaskan wanita yang disekapnya. Wanita itu bisa pulang sebelum
fajar dan lepas dari sekapan lelaki itu.”
Spontan si penjahit itu keluar
dari rumah dengan mengendap-endap menuju masjid. Begitu sampai di masjid, dia
mengumandangkan adzan lalu duduk memperhatikan jalan untuk menanti keluarnya
wanita itu dari rumah si lelaki Turki. Jika wanita itu belum keluar juga, si
penjahit akan melantunkan iqomat hingga lelaki itu tak ragu lagi.
Namun, wanita itu belum keluar
juga. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba datanglah sekelompok orang berkuda
memenuhi jalan. Mereka berkata, “Siapa yang baru saja melantunkan adzan?”
Meskipun kaget dan terdiam, dalam
hati si penjahit itu mempunyai rencana, “Aku akan berkata kepada mereka dan
menggunakan mereka sebagai batu loncatan untuk membebaskan wanita tadi.”
Dari atas menara si penjahit itu
berteriak, “Aku yang adzan.”
“Turunlah, Tuanku akan
menolongmu,” sahut mereka.
Mendengar perkataan mereka, si
penjahit merasa sangat senang. Dalam hatinya, dia berkata, “Pertolongan akan
segera tiba” dan dia segera turun dari menara. Namun, begitu dia sampai di
bawah, tiba-tiba seorang prajurit bernama Badar dan beberapa teman-temannya
menangkap dan membawa penjahit ke hadapan raja Ma’tadhid. Si penjahit merasa
ketakutan. Hatinya ciut. Tetapi raja berusaha menenangkannya dan bertanya, “Apa
yang mendorongmu untuk mengumandangkan adzan yang mengagetkan seluruh kaum
muslimin karena belum waktunya? Mereka jadi terganggu karena ulahmu itu,
diantara mereka ada yang sedang buang air, lalu dia cepat-cepat
menyelesaikannya, ada yang sedang sahur untuk puasa dan dia menghentikan makan
padahal masih dibolehkan.”
Penjahit itu dengan takut,
menjawab, “Apakah Tuanku menjamin keselamatanku?”
“Ya kamu aman.”
Maka penjahit itu menceritakan
semua mengenai wanita itu dan si lelaki Turki. Mendegar penjelasannya, Raja itu
berkata, “Hai Badar, bawa kemari wanita itu dan si lelaki Turki!”
Beberapa saat kemudian, Badar datang
dengan membawa kedua orang yang dimaksudkan. Raja bertanya pada wanita malang
mengenai apa yang menimpanya. Dia menjawab persis seperti apa yang dituturkan
sebelumnya. Mendengar penjelasan dari si wanita, raja bertitah kepada Badar, “Pulangkan
wanita ini kepada suaminya, antarkan dia sampai benar-benar masuk ke dalam
rumahnya. Jelaskan pada suaminya apa yang menimpanya dan katakan kepadanya bahwa
aku menyuruhnya untuk memperlakukan istrinya dengan adil.”
Lalu raja beralih untuk
menanyakan beberapa pertanyaan pada si lelaki Turki. Raja memulai
pertanyaannya, “Berapa penghasilanmu?”
“Sekian.”
“Berapa tunjanganmu?”
“Sekian.”
“Berapa penghasilan sampinganmu?”
“Sekian.”
“Berapa budak perempuan yang kamu
miliki?”
“Sekian.” Dia menyebutkan bahwa
dia memiliki banyak budak wanita.
“Dengan demikian banyak budak
perempuan yang kamu miliki dan kekayaan yang memadai, bukankah kamu mampu untuk
menahan diri untuk berbuat tidak senonoh dan durhaka kepada Allah serta
mencoreng harga diriku sebagai atasanmu? Bahkan kamu juga bertindak dzalim
kepada lelaki tua ini yang menyuruhmu untuk berbuat kebajikan?”
Lelaki Turki diam seribu bahasa
dan tak mampu menjawab. Lalu sang Raja berkata kepada para pembantunya, “Ambillah
karung dan penumbuk batu, lalu masukkan lelaki ini ke dalamnya!”
Setelah karung itu tiba, Raja
berkata, “Pukullah dia di dalam karung!”
Setelah itu, aku mendegar dia di
siksa sampai nyawanya melayang. Kemudian Raja berkata kepada si penjahit tua, “Orang
tua, apapun kemungkaran dan hal buruk yang kamu lihat, baik besar maupun kecil,
maka cegahlah hal itu, meskipun dilakukan oleh Badar ini. Apabila sesuatu
menyulitkanmu, maka kumandangkanlah adzan dalam waktu seperti tadi seperti yang
kamu lakukan barusan, maka aku akan segera memanggilmu. Nanti aku akan segera
menindak siapapun yang tidak memperdulikan omonganmu.”
Setelah itu, berita itu tersebar
ke seluruh pelosok negeri. Semenjak itu, setiap orang menuruti perkataan si
penjahit tua, baik ketika dia memberikan keadilan atu mencegah hal yang buruk,
sebab Raja begitu dihormati dan ditakuti. Si penjahit tua pun tak perlu
melantunkan adzan pada waktu seperti tadi.
--------------------- Bacaan Bermakna