11 April 2014

Kisah Seorang Penjahit yang Mengumandangkan Adzan Sebelum Waktunya (Bagian 2)

Seusai menjalankan sholat Isya’ di masjid, si penjahit berkata kepada mereka yang hadir, “Marilah kita bersama-sama menuju musuh Allah yaitu lelaki berkebangsaan Turki agar dia tidak melakukan perbuatan keji dan membebaskan wanita yang disekapnya.


Sekelompok orang, termasuk si penjahit, mendatangi rumah lelaki itu dan membuat keributan. Tak seberapa lama, beberapa pembantu lelaki itu keluar dan langsung menuju si penjahit. Mereka memukulinya sampai dia hampir kehilangan nyawanya. Kemudian beberapa tetangga si penjahit membawanya pulang. Sesampainya di rumah, dia dirawat oleh keluarganya. Saat tengah malam, penjahit itu terbangun karena kesakitan.

Dalam hati dia berkata, “Lelaki Turki itu mabuk-mabukkan sapanjang malam dan lupa waktu, jika aku mengumandangkan adzan, pasti dia menyangka bahwa fajar telah menyingsing, dan dia akan membebaskan wanita yang disekapnya. Wanita itu bisa pulang sebelum fajar dan lepas dari sekapan lelaki itu.”

Spontan si penjahit itu keluar dari rumah dengan mengendap-endap menuju masjid. Begitu sampai di masjid, dia mengumandangkan adzan lalu duduk memperhatikan jalan untuk menanti keluarnya wanita itu dari rumah si lelaki Turki. Jika wanita itu belum keluar juga, si penjahit akan melantunkan iqomat hingga lelaki itu tak ragu lagi.

Namun, wanita itu belum keluar juga. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba datanglah sekelompok orang berkuda memenuhi jalan. Mereka berkata, “Siapa yang baru saja melantunkan adzan?”

Meskipun kaget dan terdiam, dalam hati si penjahit itu mempunyai rencana, “Aku akan berkata kepada mereka dan menggunakan mereka sebagai batu loncatan untuk membebaskan wanita tadi.”

Dari atas menara si penjahit itu berteriak, “Aku yang adzan.”

“Turunlah, Tuanku akan menolongmu,” sahut mereka.

Mendengar perkataan mereka, si penjahit merasa sangat senang. Dalam hatinya, dia berkata, “Pertolongan akan segera tiba” dan dia segera turun dari menara. Namun, begitu dia sampai di bawah, tiba-tiba seorang prajurit bernama Badar dan beberapa teman-temannya menangkap dan membawa penjahit ke hadapan raja Ma’tadhid. Si penjahit merasa ketakutan. Hatinya ciut. Tetapi raja berusaha menenangkannya dan bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk mengumandangkan adzan yang mengagetkan seluruh kaum muslimin karena belum waktunya? Mereka jadi terganggu karena ulahmu itu, diantara mereka ada yang sedang buang air, lalu dia cepat-cepat menyelesaikannya, ada yang sedang sahur untuk puasa dan dia menghentikan makan padahal masih dibolehkan.”

Penjahit itu dengan takut, menjawab, “Apakah Tuanku menjamin keselamatanku?”

“Ya kamu aman.”

Maka penjahit itu menceritakan semua mengenai wanita itu dan si lelaki Turki. Mendegar penjelasannya, Raja itu berkata, “Hai Badar, bawa kemari wanita itu dan si lelaki Turki!”

Beberapa saat kemudian, Badar datang dengan membawa kedua orang yang dimaksudkan. Raja bertanya pada wanita malang mengenai apa yang menimpanya. Dia menjawab persis seperti apa yang dituturkan sebelumnya. Mendengar penjelasan dari si wanita, raja bertitah kepada Badar, “Pulangkan wanita ini kepada suaminya, antarkan dia sampai benar-benar masuk ke dalam rumahnya. Jelaskan pada suaminya apa yang menimpanya dan katakan kepadanya bahwa aku menyuruhnya untuk memperlakukan istrinya dengan adil.”

Lalu raja beralih untuk menanyakan beberapa pertanyaan pada si lelaki Turki. Raja memulai pertanyaannya, “Berapa penghasilanmu?”
“Sekian.”
“Berapa tunjanganmu?”
“Sekian.”
“Berapa penghasilan sampinganmu?”
“Sekian.”
“Berapa budak perempuan yang kamu miliki?”
“Sekian.” Dia menyebutkan bahwa dia memiliki banyak budak wanita.

“Dengan demikian banyak budak perempuan yang kamu miliki dan kekayaan yang memadai, bukankah kamu mampu untuk menahan diri untuk berbuat tidak senonoh dan durhaka kepada Allah serta mencoreng harga diriku sebagai atasanmu? Bahkan kamu juga bertindak dzalim kepada lelaki tua ini yang menyuruhmu untuk berbuat kebajikan?”

Lelaki Turki diam seribu bahasa dan tak mampu menjawab. Lalu sang Raja berkata kepada para pembantunya, “Ambillah karung dan penumbuk batu, lalu masukkan lelaki ini ke dalamnya!”

Setelah karung itu tiba, Raja berkata, “Pukullah dia di dalam karung!”

Setelah itu, aku mendegar dia di siksa sampai nyawanya melayang. Kemudian Raja berkata kepada si penjahit tua, “Orang tua, apapun kemungkaran dan hal buruk yang kamu lihat, baik besar maupun kecil, maka cegahlah hal itu, meskipun dilakukan oleh Badar ini. Apabila sesuatu menyulitkanmu, maka kumandangkanlah adzan dalam waktu seperti tadi seperti yang kamu lakukan barusan, maka aku akan segera memanggilmu. Nanti aku akan segera menindak siapapun yang tidak memperdulikan omonganmu.”


Setelah itu, berita itu tersebar ke seluruh pelosok negeri. Semenjak itu, setiap orang menuruti perkataan si penjahit tua, baik ketika dia memberikan keadilan atu mencegah hal yang buruk, sebab Raja begitu dihormati dan ditakuti. Si penjahit tua pun tak perlu melantunkan adzan pada waktu seperti tadi.


--------------------- Bacaan Bermakna