11 April 2014

Kisah Seorang Penjahit yang Mengumandangkan Adzan Sebelum Waktunya (Bagian 1)

Dikisahkan bahwa pada suatu masa, seorang panglima Baghdad berhutang sejumlah uang kepada seorang pedagang. Sebenarnya hutang itu sudah ditagih, namun pembayarannya terus ditunda, bahkan diremehkan.

Pedagang itu pun berkata, “Karena itu, aku berniat mengadu kepada Khalifah Al-Mu’tahid, sebab aku sudah mengadu pada Menteri Ubaidillah ibn Sulaiman, namun tidak ada hasilnya. Namun, salah seorang temanku mengatakan bahwa ia sanggup menagih hutang itu dan mengambil uangku dari panglima tanpa mengadu kepada pejabat negara. Lalu dia mengajakku pergi bersamanya. Aneh, ternyata dia mempertemukanku dengan seorang penjahit tua di Pasar Selasa. Sehari-harinya dia menjahit dan mengajarkan Al-Qur’an di masjid. Setelah temanku menceritakan nasib yang kualami, penjahit itu bersama kami mendatangi rumah si panglima.”


Pedagang dan temannya serta penjahit tua itu akhirnya tiba di rumah panglima. Begitu pelayannya melihat penjahit tua, mereka menghormatinya dan ingin mencium tangannya. Namun si orang tua menolaknya.

Mereka bertanya, “Pak tua, ada apa gerangan Anda dating kemari? Panglima sedang pergi, jika ada urusan dan kami bisa menyelesaikannya, maka akan kami tangani. Jika tidak, silakan kalian masuk dan tunggulah sampai Panglima tiba.”

Agak lama kemudian, panglima yang ditunggu pun tiba. Ketika melihat di penjahit tua, panglima menghormatinya dan langsung berkata, “Aku tidak akan melepas pakaian ini sebelum Anda menyampaikan urusan Anda kepadaku.”

Maka penjahit itu menyampaikan maksud hajat si pedagang. Setelah tahu duduk perkaranya, panglima berkata, “Aku tidak memiliki uang sama sekali, selian lima ribu dirham yang kau minta, aku memberikannya sebagai jaminan untuk pembayaran hutang yang tersisa.”

Semua pihak menyetujuinya, lalu panglima memberikan uang dirham dan perhiasan seniali sisa hutangnya. Setelah menerima semua itu, pedagang meminta si penjahit dan temannya sebagai saksi bahwa gadai itu berlaku sampai jatuh tempo tertentu. Jika pada saat jatuh tempo si panglima tidak membayar sisa hutangnya, maka dia membiarkan perhiasannya dijual untuk melunasi sisa hutangnya dari penjualan itu.

Dalam perjalanan pulang, si pedagang berkata pada penjahit tua, “Allah mengembalikan uangku berkat Anda, pak tua. Sekarang silakan mengambil uang sesuai yang Anda inginkan. Aku tulus memberikannya kepada Anda.”

Namun, dia menolak sambil berkata, “Betapa cepat kamu membalas kebaikanku dengan keburukan. Pergilah, semoga Allah member berkah pada hartamu.”

“Ada satu permohonan lagi dariku,” kata si pedagang.

“Jelaskan padaku kenapa panglima yang begitu sadis dan tidak peduli pejabat negara bisa tunduk kepada Anda?” lanjutnya.

“Kamu telah memperoleh keinginanmu, maka jangan kamu ganggu pekerjaanku dan mata pencaharianku,” jawab si penjahit tua.

Karena penasaran, si pedagang ters memaksa pak tua sehingga akhirnya penjahit tua itu pun mulai bercerita, “Aku biasa shalat di masjid ini sebagai imam jamaah. Disamping itu, aku juga mengajarkan Al-Qur’an sejak empat puluh tahun silam. Mata pencaharianku hanyalah menjahit dan tidak memiliki penghasilan lain. Setahun yang lalu, aku berjalan pulang ke rumah setelah shalat Maghrib. Dalam perjalanan, aku melewati rumah seorang lelaki berkebangsaan Turki. Tiba-tiba seorang wanita cantik rupawan lewat dan lelaki itu tertarik kepadanya. Dalam keadaan mabuk, lelaki itu membawa wanita pujaannya masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu menolak dan meronta meminta pertolongan, namun tak seorang pun memberikan pertolongan.

Di sela-sela perontaannya, wanita itu berkata, “Aku akan diceraikan suamiku jika sampai bermalam di sini. Jika aku berbuat demikian, maka dia akan membakar rumah kami dan melakukan perbuatan buruk lainnya.”

Hal itu membuat si penjahit iba dan meminta lelaki Turki melepaskan wanita itu, namun dia menolak. Bahkan dia memukul kepala si penjahit dengan tongkat, sampai kepalanya terluka. Wanita itu akhirnya berhasil dibawanya masuk ke dalam rumah. Si penjahit kembali pulang ke rumahnya dan membalut luka dikepalanya. Setelah itu, dia beristirahat sejenak sebelum menunaikan ibadah sholat Isya’.

--------------------- Bacaan Bermakna