Dikisahkan bahwa pada suatu masa,
seorang panglima Baghdad berhutang sejumlah uang kepada seorang pedagang. Sebenarnya
hutang itu sudah ditagih, namun pembayarannya terus ditunda, bahkan diremehkan.
Pedagang itu pun berkata, “Karena
itu, aku berniat mengadu kepada Khalifah Al-Mu’tahid, sebab aku sudah mengadu
pada Menteri Ubaidillah ibn Sulaiman, namun tidak ada hasilnya. Namun, salah seorang
temanku mengatakan bahwa ia sanggup menagih hutang itu dan mengambil uangku
dari panglima tanpa mengadu kepada pejabat negara. Lalu dia mengajakku pergi
bersamanya. Aneh, ternyata dia mempertemukanku dengan seorang penjahit tua di Pasar
Selasa. Sehari-harinya dia menjahit dan mengajarkan Al-Qur’an di masjid. Setelah
temanku menceritakan nasib yang kualami, penjahit itu bersama kami mendatangi
rumah si panglima.”
Pedagang dan temannya serta penjahit tua itu akhirnya tiba di rumah panglima. Begitu pelayannya melihat penjahit tua, mereka menghormatinya dan ingin mencium tangannya. Namun si orang tua menolaknya.
Mereka bertanya, “Pak tua, ada
apa gerangan Anda dating kemari? Panglima sedang pergi, jika ada urusan dan
kami bisa menyelesaikannya, maka akan kami tangani. Jika tidak, silakan kalian
masuk dan tunggulah sampai Panglima tiba.”
Agak lama kemudian, panglima yang
ditunggu pun tiba. Ketika melihat di penjahit tua, panglima menghormatinya dan langsung
berkata, “Aku tidak akan melepas pakaian ini sebelum Anda menyampaikan urusan
Anda kepadaku.”
Maka penjahit itu menyampaikan
maksud hajat si pedagang. Setelah tahu duduk perkaranya, panglima berkata, “Aku
tidak memiliki uang sama sekali, selian lima ribu dirham yang kau minta, aku
memberikannya sebagai jaminan untuk pembayaran hutang yang tersisa.”
Semua pihak menyetujuinya, lalu
panglima memberikan uang dirham dan perhiasan seniali sisa hutangnya. Setelah menerima
semua itu, pedagang meminta si penjahit dan temannya sebagai saksi bahwa gadai
itu berlaku sampai jatuh tempo tertentu. Jika pada saat jatuh tempo si panglima
tidak membayar sisa hutangnya, maka dia membiarkan perhiasannya dijual untuk
melunasi sisa hutangnya dari penjualan itu.
Dalam perjalanan pulang, si
pedagang berkata pada penjahit tua, “Allah mengembalikan uangku berkat Anda,
pak tua. Sekarang silakan mengambil uang sesuai yang Anda inginkan. Aku tulus
memberikannya kepada Anda.”
Namun, dia menolak sambil
berkata, “Betapa cepat kamu membalas kebaikanku dengan keburukan. Pergilah,
semoga Allah member berkah pada hartamu.”
“Ada satu permohonan lagi dariku,”
kata si pedagang.
“Jelaskan padaku kenapa panglima
yang begitu sadis dan tidak peduli pejabat negara bisa tunduk kepada Anda?”
lanjutnya.
“Kamu telah memperoleh
keinginanmu, maka jangan kamu ganggu pekerjaanku dan mata pencaharianku,” jawab
si penjahit tua.
Karena penasaran, si pedagang
ters memaksa pak tua sehingga akhirnya penjahit tua itu pun mulai bercerita, “Aku
biasa shalat di masjid ini sebagai imam jamaah. Disamping itu, aku juga
mengajarkan Al-Qur’an sejak empat puluh tahun silam. Mata pencaharianku
hanyalah menjahit dan tidak memiliki penghasilan lain. Setahun yang lalu, aku
berjalan pulang ke rumah setelah shalat Maghrib. Dalam perjalanan, aku melewati
rumah seorang lelaki berkebangsaan Turki. Tiba-tiba seorang wanita cantik
rupawan lewat dan lelaki itu tertarik kepadanya. Dalam keadaan mabuk, lelaki
itu membawa wanita pujaannya masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu menolak dan
meronta meminta pertolongan, namun tak seorang pun memberikan pertolongan.
Di sela-sela perontaannya, wanita
itu berkata, “Aku akan diceraikan suamiku jika sampai bermalam di sini. Jika aku
berbuat demikian, maka dia akan membakar rumah kami dan melakukan perbuatan
buruk lainnya.”
Hal itu membuat si penjahit iba
dan meminta lelaki Turki melepaskan wanita itu, namun dia menolak. Bahkan dia
memukul kepala si penjahit dengan tongkat, sampai kepalanya terluka. Wanita itu
akhirnya berhasil dibawanya masuk ke dalam rumah. Si penjahit kembali pulang ke
rumahnya dan membalut luka dikepalanya. Setelah itu, dia beristirahat sejenak
sebelum menunaikan ibadah sholat Isya’.
--------------------- Bacaan Bermakna