Seperti yang telah dikisahkan sebelumnya, bahwa Allah memberi ilham kepada Nabi Adam menikahkan putera-puterinya secara bersilangan, Qabil dengan adik Habil yang bernama Lubuda dan Habil dengan adik Qabil yang bernama Iqlima.
Dalam menghadapi keadaan seperti itu, Nabi Adam menghindari penggunaan kekerasan atau paksaan yang sangat mungkin menimbulkan perpecahan di antara anggota keluarga. Beliau secara bijaksana mengusulkan agar masing-masing dari Qabil dan Habil menyerahkan kurban kepada Allah. Barang siapa di antara kedua saudara itu diterima kurbannya, maka dialah yang berhak menentukan pilihan jodohnya.
Qabil dan Habil menyetujui jalan penyelesaian yang ditawarkan
oleh ayah mereka. Habil keluar dan kembali dengan membawa peliharaannya
sedangkan Qabil datang dengan sekarung gandum yang rusak dan busuk. Kemudian,
kedua kurban itu diletakkan di atas
sebuah bukit. Dari kejauhan, mereka menyaksikan apa yang akan terjadi.
Dengan disaksikan oleh seluruh anggota keluarga, terlihat api
besar turun dari langit menyambar kambing binatang kurban Habil. Seketika itu
pula kambing itu musnah sedangkan karung gandum Qabil sama sekali tidak
tersentuh. Dengan demikian, jelaslah bahwa Habil lah yang mendapat kesempatan
untuk menentukan siapa yang kelak akan menjadi istrinya.
Suatu ketika, Adam hendak berpergian meninggalkan rumah. Beliau
mengamanahkan rumahtangga dan keluarga kepada Qabil. Adam berpesan pada Habil
untuk menjaga anggota keluarga yang lain dan tetap menjaga kerukunan yang telah
terjalin. Qabil menerimanya dan bersedia menanggungnya. Namun dibalik semua
itu, ia merasa bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk membalas dendam
terhadap Habil saudaranya.
Setelah Nabi Adam meninggalkan rumah, Qabil datang menemui Habil
di tempat penternakannya.
“Aku datang ke mari untuk membunuhmu. Masanya telah tiba untuk
aku lenyapkan engkau dari atas bumi ini.”
“Apa salahku? Dengan asalan apakah engkau hendak
membunuhku?"
“Ialah kerana kurbanmu diterima oleh Allah sedangkan kurbanku
ditolak yang bererti bahawa engkau akan mengawini adikku Iqlima yang cantik dan
molek itu dan aku harus mengahwini adikmu yang buruk dan tidak mempunyai gaya
yang menarik itu.”
“Adakah berdosa aku bahwa Allah telah menerima kurbanku dan
menolak kurbanmu? Tidakkah engkau telah menyetujui cara penyelesaian yang
diusulkan oleh ayah sebagaimana telah kami laksanakan? Janganlah tergesa-gesa
wahai saudaraku, mempertaruhkan hawa nafsu dan ajakan syaitan! Kawallah
perasaanmu dan fikirlah masak-masak akan akibat perbuatanmu kelak! Ketahuilah
bahawa Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa yang
menyerahkan dengan tulus ikhlas dari hati yang suci dan niat yang murni. Adakah
mungkin sesekali bahwa kurban yang engkau serahkan itu engkau pilih dari
gandummu yang telah rusak dan busuk dan engkau berikan secara terpaksa
bertentangan dengan kehendak hatimu, sehingga ditolak oleh Allah, berlainan
dengan kambing yang aku serahkan sebagai korban yang sengaja aku pilihkan dari
perternakanku yang paling sehat dan kucintai dan ku serahkannya dengan tulus
ikhlas disertai permohonan diterimanya oleh Allah. Renungkanlah, wahai saudaraku
kata-kataku ini dan buangkanlah niat jahatmu yang telah dibisikkan kepadamu
oleh Iblis itu, musuh yang telah menyebabkan turunnya ayah dan ibu dari surge. Dan
ketahuilah bhawa jika engkau tetap berkeras kepala hendak membunuhku, tidaklah
akan aku angkat tanganku untuk membalasmu kerana aku takut kepada Allah dan
tidak akan melakukan sesuatu yang tidak diridhainya. Aku hanya berserah diri
kepada-Nya dan kepada apa yang akan ditakdirkan bagi diriku.”
Nasihat itu didengarkan oleh Qabil, namun niatnya tetap tak
berubah. Ketika Qabil bingung bagaimana ia harus membalaskan dendamnya pada
Habil saudaranya, Iblis menjelma menjadi seekor burung yang dipukul kepalanya
dengan batu sampai mati. Contoh inilah yang diterapkan pada Habil. Qabil
melakukannya ketika Habil tengah tertidur dengan nyenyak. Inilah pembunuhan pertama
dalam sejarah kehidupan manusia.
Kembali Qabil dirundung rasa gelisah. Ia bingung bagaimana
menyembunyikan mayat saudaranya. Qabil memikulnya mondar-,mandir dan tidak tau
apa yang harus dilakukannya. Namun, kebingungan dan kesedihan Qabil tidak
berlangsung lama. Allah SWT tidak membiarkan mayat hamba-Nya tersia-sia. Kepada
Qabil, Allah memberikan sebuah contoh dari seekor burung gagak yang menggali
tanah untuk meletakkan gagak lain yang sudah mati, yang kemudian gagak itu
menutupnya kembali dengan tanah.
“Alangkah bodohnya aku, tidakkah aku dapat berbuat seperti
burung gagak itu dan mengikuti caranya menguburkan mayat saudaraku ini?” kata
Qabil.
Ketika Adam kembali dari perjalanan jauhnya, ia tidak melihat
Habil.
“Di manakah Habil berada?Aku tidak melihatnya sejak aku pulang.”
Tanya Nabi Adam pada Qabil.
“Entah, aku tidak tahu dia ke mana! Aku bukan hamba Habil yang
harus mengikutinya ke mana saja ia pergi.”
Tidak lama kemudian terungkaplah kejadian pembunuhan terhadap
Habil yang dilakukan Qabil, saudaranya sendiri. Menghadapi musibah itu, Nabi
Adam hanya berpasrah kepada Allah dan tidak mampu berbuat banyak. Beliau terus
memohon kepada Allah untuk dikurniai kesabaran dan keteguhan iman. Beliau juga
terus mendoakan puteranya, Qabil, agar diberi kesadaran.
--------------------- Bacaan Bermakna