29 April 2014

Kisah Nabi Adam (Bagian 3): Pembunuhan Pertama di Bumi

Seperti yang telah dikisahkan sebelumnya, bahwa Allah memberi ilham kepada Nabi Adam menikahkan putera-puterinya secara bersilangan, Qabil dengan adik Habil yang bernama Lubuda dan Habil dengan adik Qabil yang bernama Iqlima.

Ketika Nabi Adam menyampaikan hal itu pada anak-anaknya, tanpa diduga dan disangka, rancangan yang diputuskan itu ditolak mentah-mentah oleh Qabil. Ia tidak mau menikahi Lubuda, adik Habil karena menurutnya Lubuda tidak secantik adiknya sendiri Iqlima. Ia mengemukakan bahwa Iqlima lebih pantas menjadi istrinya dan dia tidak rela menyerahkannya untuk Habil.


Dalam menghadapi keadaan seperti itu, Nabi Adam menghindari penggunaan kekerasan atau paksaan yang sangat mungkin menimbulkan perpecahan di antara anggota keluarga. Beliau secara bijaksana mengusulkan agar masing-masing dari Qabil dan Habil menyerahkan kurban kepada Allah. Barang siapa di antara kedua saudara itu diterima kurbannya, maka dialah yang berhak menentukan pilihan jodohnya.

Qabil dan Habil menyetujui jalan penyelesaian yang ditawarkan oleh ayah mereka. Habil keluar dan kembali dengan membawa peliharaannya sedangkan Qabil datang dengan sekarung gandum yang rusak dan busuk. Kemudian, kedua kurban itu  diletakkan di atas sebuah bukit. Dari kejauhan, mereka menyaksikan apa yang akan terjadi.

Dengan disaksikan oleh seluruh anggota keluarga, terlihat api besar turun dari langit menyambar kambing binatang kurban Habil. Seketika itu pula kambing itu musnah sedangkan karung gandum Qabil sama sekali tidak tersentuh. Dengan demikian, jelaslah bahwa Habil lah yang mendapat kesempatan untuk menentukan siapa yang kelak akan menjadi istrinya.

Suatu ketika, Adam hendak berpergian meninggalkan rumah. Beliau mengamanahkan rumahtangga dan keluarga kepada Qabil. Adam berpesan pada Habil untuk menjaga anggota keluarga yang lain dan tetap menjaga kerukunan yang telah terjalin. Qabil menerimanya dan bersedia menanggungnya. Namun dibalik semua itu, ia merasa bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk membalas dendam terhadap Habil saudaranya.

Setelah Nabi Adam meninggalkan rumah, Qabil datang menemui Habil di tempat penternakannya.
“Aku datang ke mari untuk membunuhmu. Masanya telah tiba untuk aku lenyapkan engkau dari atas bumi ini.”
“Apa salahku? Dengan asalan apakah engkau hendak membunuhku?"
“Ialah kerana kurbanmu diterima oleh Allah sedangkan kurbanku ditolak yang bererti bahawa engkau akan mengawini adikku Iqlima yang cantik dan molek itu dan aku harus mengahwini adikmu yang buruk dan tidak mempunyai gaya yang menarik itu.”

“Adakah berdosa aku bahwa Allah telah menerima kurbanku dan menolak kurbanmu? Tidakkah engkau telah menyetujui cara penyelesaian yang diusulkan oleh ayah sebagaimana telah kami laksanakan? Janganlah tergesa-gesa wahai saudaraku, mempertaruhkan hawa nafsu dan ajakan syaitan! Kawallah perasaanmu dan fikirlah masak-masak akan akibat perbuatanmu kelak! Ketahuilah bahawa Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa yang menyerahkan dengan tulus ikhlas dari hati yang suci dan niat yang murni. Adakah mungkin sesekali bahwa kurban yang engkau serahkan itu engkau pilih dari gandummu yang telah rusak dan busuk dan engkau berikan secara terpaksa bertentangan dengan kehendak hatimu, sehingga ditolak oleh Allah, berlainan dengan kambing yang aku serahkan sebagai korban yang sengaja aku pilihkan dari perternakanku yang paling sehat dan kucintai dan ku serahkannya dengan tulus ikhlas disertai permohonan diterimanya oleh Allah. Renungkanlah, wahai saudaraku kata-kataku ini dan buangkanlah niat jahatmu yang telah dibisikkan kepadamu oleh Iblis itu, musuh yang telah menyebabkan turunnya ayah dan ibu dari surge. Dan ketahuilah bhawa jika engkau tetap berkeras kepala hendak membunuhku, tidaklah akan aku angkat tanganku untuk membalasmu kerana aku takut kepada Allah dan tidak akan melakukan sesuatu yang tidak diridhainya. Aku hanya berserah diri kepada-Nya dan kepada apa yang akan ditakdirkan bagi diriku.”

Nasihat itu didengarkan oleh Qabil, namun niatnya tetap tak berubah. Ketika Qabil bingung bagaimana ia harus membalaskan dendamnya pada Habil saudaranya, Iblis menjelma menjadi seekor burung yang dipukul kepalanya dengan batu sampai mati. Contoh inilah yang diterapkan pada Habil. Qabil melakukannya ketika Habil tengah tertidur dengan nyenyak. Inilah pembunuhan pertama dalam sejarah kehidupan manusia.

Kembali Qabil dirundung rasa gelisah. Ia bingung bagaimana menyembunyikan mayat saudaranya. Qabil memikulnya mondar-,mandir dan tidak tau apa yang harus dilakukannya. Namun, kebingungan dan kesedihan Qabil tidak berlangsung lama. Allah SWT tidak membiarkan mayat hamba-Nya tersia-sia. Kepada Qabil, Allah memberikan sebuah contoh dari seekor burung gagak yang menggali tanah untuk meletakkan gagak lain yang sudah mati, yang kemudian gagak itu menutupnya kembali dengan tanah.
“Alangkah bodohnya aku, tidakkah aku dapat berbuat seperti burung gagak itu dan mengikuti caranya menguburkan mayat saudaraku ini?” kata Qabil.

Ketika Adam kembali dari perjalanan jauhnya, ia tidak melihat Habil.
“Di manakah Habil berada?Aku tidak melihatnya sejak aku pulang.” Tanya Nabi Adam pada Qabil.
“Entah, aku tidak tahu dia ke mana! Aku bukan hamba Habil yang harus mengikutinya ke mana saja ia pergi.”

Tidak lama kemudian terungkaplah kejadian pembunuhan terhadap Habil yang dilakukan Qabil, saudaranya sendiri. Menghadapi musibah itu, Nabi Adam hanya berpasrah kepada Allah dan tidak mampu berbuat banyak. Beliau terus memohon kepada Allah untuk dikurniai kesabaran dan keteguhan iman. Beliau juga terus mendoakan puteranya, Qabil, agar diberi kesadaran.




--------------------- Bacaan Bermakna