Nabi Yunus as. dikenal sebagai orang
yang sholeh, bahkan sebelum beliau diangkat
menjadi Rasul pada umurnya yang ke-30. Semasanya diutus Allah menjadi Rasul,
beliau terus mengajak kaumnya untuk menyembah Allah. Namun, alhasil hanya dua
orang saja yang mau beriman. Mereka bernama Rubil dan Taukh.
Nabi Yunus terus berdoa pada Allah agar kaumnya segera terbuka hatinya dan mau menerima ajaran-ajaran yang dibawanya. Sehingga Allah menurunkan wahyu yang menyatakan agar Yunus tetap berdakwah dalam 40 hari. Jika dalam 40 hari kaumnya tetap tidak mau beriman kepada Allah, niscaya Allah akan menurunkan adzab.
Nabi Yunus pun terus berdakwah
sampai hari ke-40. Namun rupanya keadaan kaumnya tidak berubah bahkan hingga
hari ke-37 ia berdakwah. Padahal, Nabi Yunus juga telah mengabarkan kaumnya
tentang adzab yang akan Allah turunkan di hari ke-40 jika mereka tak mau
beriman.
Pada akhirnya, pada malam ke-40, nampak
awan hitam yang bergumpal-gumpal di langit. Nabi Yunus memprediksi bahwa itu
adalah siksaan Allah yang telah diwahyukan sebelumnya. Kemudian beliau segera
pergi meninggalkan kaumnya, karena takut siksaan Allah.
Melihat mendung yang semakin lama
semakin gelap, kaum Nabi Yunus pun menjadi ketakutan. Mereka dengan segera
teringat akan peringatan yang telah disampaikan Nabi Yunus. Sehingga dengan
segera mereka berbondong-bondong keluar dari rumah masing-masing dan menuju
satu tempat. Disana mereka menyatakan bertaubat dan beriman kepada Allah swt.
Allah pun mengabulkan taubat mereka. Berangsur-angsur gumpalan awan hitam di
langit pun menghilang.
Meraka pun mencari Nabi Yunus. Tapi
sekeras apapun mereka mencari, tetap saja Nabi Yunus tidak ditemukan.
Di tempat lain, setelah Nabi
Yunus keluar dari kampong halamannya, beliau lantas mencari kabar tentang
keadaan kaumnya. Apakah Allah telah benar-benar menurunkan adzab di hari ke-40?
Persangkaan mereka ternyata meleset. Hidup umat Nabi Yunus hidup aman dan
tenteram karena mereka sudah bertaubat.
Mendengar kabar tersebut, Nabi
Yunus justru merasa takut untuk kembali pada umatnya. Beliau takut bila
dianggap berbohong oleh kaumnya. Sehingga lebih jauh, tentunya mereka akan
membunuh Nabinya yang pendusta tersebut.
Akhirnya, Nabi Yunus tetap
meneruskan perjalanan hingga akhirnya beliau berlayar dengan sebuah kapal. Tiba-tiba
ditengah pelayaran itu, datanglah angin taufandan gelombang besar yang hampir
menenggelamkan kapal itu. Mendadak, nahkoda kapal itu berseru, “Ketahuilah oleh
kalian, bahwa kapal ini biasanya tidak mau membawa orang pelarian. Jika ada
orang pelarian yang ikut disini, maka akan terjadilah hal seperti ini. Oleh sebab
itu, apakah ada di antara kalian sebagai orang pelarian. Jika ada, kami mohon
lebih baik mengaku saja dan terjunlah ke laut, demi menjaga keselamatan orang
banyak.
Mendengar pengumuman itu, Nabi
Yunus segera berkata, “Betul, betul. Saya ini orang pelarian.” Nahkoda kapal
tercengar mendengar pengakuan itu, dan dia meragukannya. Lalu nahkoda kapal
mengulangi pertanyaannya sampai berulang-ulang. Tak seorang pun yang mengaku
menjadi orang pelarian, kecuali Nabi Yunus. Hingga akhirnya, diadakan undian
sebanyak tiga kali. Dan ketiganya selalu jatuh pada Nabi Yunus pula.
Nabi Yunus memanglah orang pelarian.
Beliau melarikan diri dari kaumnya sebelum ada perintah Allah untuk keluar. Maka,
tanpa piker panjang lagi, Nabi Yunus segera terjun ke dalam laut. Gelombang besar
dengan segera menenggelamkan tubuhnya. Pada saat itu juga, terlihat ikan hiu
yang amat besar lalu menelannya.
Dengan pertolongan Allah, Nabi
Yunus tidak mati di dalam perut ikan. Beliau selalu berdoa kepada Allah, “Ya
Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Aku adalah orang yang
aniaya (berbuat dosa) karena tidak sabar sehingga aku melarikan diri dari
kaumku sebelum Engkau memerintahkan aku keluar dari negeriku. Ampunilah dosaku,
wahai Tuhanku, Dzat Yang Maha Menerima taubat.”
Dengan pertolongan Allah, ikan
hiu itu akhirnya terdampar di pinggir samudera. Maka Nabi Yunus dapat keluar
dalam keadaan selamat, meskipun beliau sangat lemah dan badannya tampak kurus.
Setelah mendapat perawatan dari
penduduk sekitar, berangsur-angsur keadan beliau pun membaik. Beliau pun
langsung kembali ke kampung halamannya. Saat memasuki kampung halamnnya, beliau
bertemu dengan seorang anak gembala.
“Bagaimana kabarnya orang-orang
yang tinggal di kampung ini?” tanya Nabi Yunus.
“Kabar baik. Mereka hidup aman
dan sejahtera. Sebab mereka telah bertaubat kepada Allah sebelum adzab
benar-benar turun menimpa mereka. Sekarang ini, mereka sangat menanti-nantikan
kedatangan Nabinya yang sudah lama menghilang. Alangkah gembiranya penduduk kampung
ini apabila Nabinya itu ada di tengah-tengah mereka kembali.”
Hati Nabi Yunus sangat gembira. Sebab
kaumnya yang dulu musyrik, sekarang telah beriman. Beliau pun lantas berkata, “
Aku inilah Yunus, Nabi mereka itu.”
“Kalau begitu, marilah kita
bersama-sama ke kampung itu dan saya akan memberikan kabar kepada kaum kita
atas kedatangan engkau ini,” anak gembala itu berkata dengan gembira.
Setelah tiba di kampung tersebut,
maka berteriaklah anak itu memberitahukan kepada semua penduduk atas kedatangan
Nabi Yunus. Penduduk kampung akhirnya menyambut kedatangan Nabinya dengan penuh
keceriaan. Sejak saat itu, Nabi Yunus hidup dengan kaumnya dalam keadaan aman
tenteram serta menjadi hamba-hamba Allah yang baik.
--------------------- Bacaan Bermakna