12 April 2014

Kisah Nabi Yunus as. dan Ikan Hiu

Nabi Yunus as. dikenal sebagai orang yang sholeh, bahkan sebelum beliau  diangkat menjadi Rasul pada umurnya yang ke-30. Semasanya diutus Allah menjadi Rasul, beliau terus mengajak kaumnya untuk menyembah Allah. Namun, alhasil hanya dua orang saja yang mau beriman. Mereka bernama Rubil dan Taukh.


Nabi Yunus terus berdoa pada Allah agar kaumnya segera terbuka hatinya dan mau menerima ajaran-ajaran yang dibawanya. Sehingga Allah menurunkan wahyu yang menyatakan agar Yunus tetap berdakwah dalam 40 hari. Jika dalam 40 hari kaumnya tetap tidak mau beriman kepada Allah, niscaya Allah akan menurunkan adzab.

Nabi Yunus pun terus berdakwah sampai hari ke-40. Namun rupanya keadaan kaumnya tidak berubah bahkan hingga hari ke-37 ia berdakwah. Padahal, Nabi Yunus juga telah mengabarkan kaumnya tentang adzab yang akan Allah turunkan di hari ke-40 jika mereka tak mau beriman.

Pada akhirnya, pada malam ke-40, nampak awan hitam yang bergumpal-gumpal di langit. Nabi Yunus memprediksi bahwa itu adalah siksaan Allah yang telah diwahyukan sebelumnya. Kemudian beliau segera pergi meninggalkan kaumnya, karena takut siksaan Allah.

Melihat mendung yang semakin lama semakin gelap, kaum Nabi Yunus pun menjadi ketakutan. Mereka dengan segera teringat akan peringatan yang telah disampaikan Nabi Yunus. Sehingga dengan segera mereka berbondong-bondong keluar dari rumah masing-masing dan menuju satu tempat. Disana mereka menyatakan bertaubat dan beriman kepada Allah swt. Allah pun mengabulkan taubat mereka. Berangsur-angsur gumpalan awan hitam di langit pun menghilang.

Meraka pun mencari Nabi Yunus. Tapi sekeras apapun mereka mencari, tetap saja Nabi Yunus tidak ditemukan.

Di tempat lain, setelah Nabi Yunus keluar dari kampong halamannya, beliau lantas mencari kabar tentang keadaan kaumnya. Apakah Allah telah benar-benar menurunkan adzab di hari ke-40? Persangkaan mereka ternyata meleset. Hidup umat Nabi Yunus hidup aman dan tenteram karena mereka sudah bertaubat.

Mendengar kabar tersebut, Nabi Yunus justru merasa takut untuk kembali pada umatnya. Beliau takut bila dianggap berbohong oleh kaumnya. Sehingga lebih jauh, tentunya mereka akan membunuh Nabinya yang pendusta tersebut.

Akhirnya, Nabi Yunus tetap meneruskan perjalanan hingga akhirnya beliau berlayar dengan sebuah kapal. Tiba-tiba ditengah pelayaran itu, datanglah angin taufandan gelombang besar yang hampir menenggelamkan kapal itu. Mendadak, nahkoda kapal itu berseru, “Ketahuilah oleh kalian, bahwa kapal ini biasanya tidak mau membawa orang pelarian. Jika ada orang pelarian yang ikut disini, maka akan terjadilah hal seperti ini. Oleh sebab itu, apakah ada di antara kalian sebagai orang pelarian. Jika ada, kami mohon lebih baik mengaku saja dan terjunlah ke laut, demi menjaga keselamatan orang banyak.

Mendengar pengumuman itu, Nabi Yunus segera berkata, “Betul, betul. Saya ini orang pelarian.” Nahkoda kapal tercengar mendengar pengakuan itu, dan dia meragukannya. Lalu nahkoda kapal mengulangi pertanyaannya sampai berulang-ulang. Tak seorang pun yang mengaku menjadi orang pelarian, kecuali Nabi Yunus. Hingga akhirnya, diadakan undian sebanyak tiga kali. Dan ketiganya selalu jatuh pada Nabi Yunus pula.

Nabi Yunus memanglah orang pelarian. Beliau melarikan diri dari kaumnya sebelum ada perintah Allah untuk keluar. Maka, tanpa piker panjang lagi, Nabi Yunus segera terjun ke dalam laut. Gelombang besar dengan segera menenggelamkan tubuhnya. Pada saat itu juga, terlihat ikan hiu yang amat besar lalu menelannya.

Dengan pertolongan Allah, Nabi Yunus tidak mati di dalam perut ikan. Beliau selalu berdoa kepada Allah, “Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Aku adalah orang yang aniaya (berbuat dosa) karena tidak sabar sehingga aku melarikan diri dari kaumku sebelum Engkau memerintahkan aku keluar dari negeriku. Ampunilah dosaku, wahai Tuhanku, Dzat Yang Maha Menerima taubat.”

Dengan pertolongan Allah, ikan hiu itu akhirnya terdampar di pinggir samudera. Maka Nabi Yunus dapat keluar dalam keadaan selamat, meskipun beliau sangat lemah dan badannya tampak kurus.

Setelah mendapat perawatan dari penduduk sekitar, berangsur-angsur keadan beliau pun membaik. Beliau pun langsung kembali ke kampung halamannya. Saat memasuki kampung halamnnya, beliau bertemu dengan seorang anak gembala.

“Bagaimana kabarnya orang-orang yang tinggal di kampung ini?” tanya Nabi Yunus.

“Kabar baik. Mereka hidup aman dan sejahtera. Sebab mereka telah bertaubat kepada Allah sebelum adzab benar-benar turun menimpa mereka. Sekarang ini, mereka sangat menanti-nantikan kedatangan Nabinya yang sudah lama menghilang. Alangkah gembiranya penduduk kampung ini apabila Nabinya itu ada di tengah-tengah mereka kembali.”

Hati Nabi Yunus sangat gembira. Sebab kaumnya yang dulu musyrik, sekarang telah beriman. Beliau pun lantas berkata, “ Aku inilah Yunus, Nabi mereka itu.”

“Kalau begitu, marilah kita bersama-sama ke kampung itu dan saya akan memberikan kabar kepada kaum kita atas kedatangan engkau ini,” anak gembala itu berkata dengan gembira.

Setelah tiba di kampung tersebut, maka berteriaklah anak itu memberitahukan kepada semua penduduk atas kedatangan Nabi Yunus. Penduduk kampung akhirnya menyambut kedatangan Nabinya dengan penuh keceriaan. Sejak saat itu, Nabi Yunus hidup dengan kaumnya dalam keadaan aman tenteram serta menjadi hamba-hamba Allah yang baik.



--------------------- Bacaan Bermakna