05 April 2014

Kisah Hatib Ibnu Balta'ah ra. yang Pernah Mengkhianati Rasulullah

Hatib Ibnu Balta'ah ra. adalah seorang sahabat Nabi yang tidak mempunyai kedudukan yang tinggi di Makkah. Dia bukanlah dari keluarga bangsawan, bukan hartawan dan bukan pedagang. Tujuan hidupnya adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya. Rasul begitu menghormatinya.

Suatu ketika, saat Nabi Muhammad SAW sibuk mempersiapkan penaklukan kota Makkah (fathu Makkah), fikiran Hatib gundah gulana. Ia sedih memikirkan anak-anaknya dan keluarganya yang tidak aman dari penganiayaan kaum Quraisy, karena di Makkah mereka tidak mempunyai pelindung atau keluarga yang dapat melindungi dan menjaga mereka daripada musuh-musuh Islam. Pikirannnya buntu. Syaitan terus menggodanya sehingga ia merasa kalut. Ia pun pada akhirnya memutuskan untuk mendekati kaum musyrikin Quraisy dengan memberitahu pada mereka mengenai rahasia-rahasia kekuatan senjata yang telah dipersiapkan Rasulullah untuk penaklukan atas kota Makkah. Hal ini semata dilakukannya karena khawatir akan keselamatan keluarganya.

Tidak pernah terfikirkan olehnya, bahwa perbuatan itu merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa rahasia tentara adalah amanat yang ada di bahu para perajurit. Bila salah satu rahasia sampai dibocorkan, maka perajurit tersebut akan mendapat amarah dari Allah, malaikat-Nya dan semua kaum muslimin. Dengan dibocorkannya rahasia itu, ia telah menghadapkan pasukannya pada bahaya dan sekaligus menghadapkan tanah air pada kebinasaan.

Itulah langkah yang terburuk dalam kehidupan Hatib Ibnu Balta'ah. Cahaya iman telah padam di hatinya. Ia tidak lagi memikirkan keagungan akidah. Dengan tangan gementar, ia mulai menulis surat kepada pembesar-pembesar Quraisy. Surat itu diserahkan kepada seorang wanita. Ia menyuruh wanita tersebut agar merahasiakan surat itu di sanggul rambutnya sehingga jika ada orang yang menghadangnya, maka surat itu tidak akan diketahui. Ia berjanji pada wanita itu akan memberi hadiah yang mahal bila surat itu telah sampai di tangan pembesar Quraisy.

Baru saja wanita tersebut meninggalkan Madinah, malaikat Jibril segera memberitahu Rasulullah tentang apa yang telah dilakukan Hatib. Maka Rasulullah cepat-cepat memanggil Ali Ibn Abi Thalib dan Zubair Ibn Awwam.

“Kejarlah wanita itu, ia memberitahu surat Hatib untuk para pembesar Quraisy yang isinya menerangkan mereka tentang persiapan yang telah kita himpun dalam menaklukkan mereka.”

Ali dan Zubair bergegas keluar mencari wanita itu dan keduanya menemukan wanita tersebut di daerah Raudhah Khah. Ketika Ali ra. menyuruh wanita itu supaya mengeluarkan surat Hatib, wanita itu tidak mengaku kalau ia sedang membawa surat. Maka Ali pun berdiri dan memeriksanya, tetapi ia tidak menemukan surat itu.

Akhirnya dengan marah Ali memandang wanita itu dan berkata, “Aku bersumpah kepada Allah bahwa Rasulullah tidak pernah berdusta. Sekarang kamu harus pilih apakah kamu mau menyerahkan surat itu kepadaku, ataukah aku harus menelanjangi kamu!”

Setelah Ali bersikap kasar dan memberi dua pilihan, akhirnya wanita itu berkata: “Berpalinglah.” Setelah itu Ali membalikkan badan kemudian wanita itu membuka ikatan rambutnya dan mengeluarkan surat darinya, lalu menyerahkan surat itu kepada Ali.

Ali dan Zubair segera kembali kepada Rasulullah dengan membawa surat Hatib. Rasulullah menghadirkan Hatib Ibn Abu Balta'ah dan bertanya kepadanya, “Wahai Hatib, apa yang mendorong kamu berbuat demikian?”
“Wahai Rasulullah, janganlah tergesa-gesa menghukum diriku. Semua itu kulakukan karena aku bukan dari golongan Quraisy, di Makkah aku masih mempunyai sanak saudara. Maka aku ingin kaum Quraisy menjaga keluargaku di Makkah. Dan sungguh, itu aku lakukan bukan karena aku telah murtad dari Islam, dan bukan pula aku rela kepada kekufuran sesudah iman.”

Rasulullah memandang para sahabat yang hadir dengan wajah bersinar, “Bagaimana pun juga, ia telah berkata jujur."

Suasana majlis menjadi hening sejenak. Tiba-tiba Umar berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang munafik ini.”

Umar berpandangan bahwa membocorkan rahasia-rahasia laskar Islam merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka balasannya adalah harus dibunuh. Sementara itu Rasulullah telah memaafkan Hatib karena ia telah mengakui dosanya. Selain itu baginda mengingat perjuangan Hatib di masa lalu karena ia berjuang di medan perang Badar, sehingga banyak pasukan musyrikin yang mati di bawah tebasan pedangnya. Ia berani menghadapi bahaya dengan menerjang barisan musuh. Rasulullah juga mengingat posisi Hatib pada hari Bai'atur Ridwan di bawah sebuah pohon yang diberkahi, di mana pada saat itu para malaikat menyaksikan orang-orang mukmin yang sedang mengulurkan tangan mereka untuk berbaiat kepada Rasulullah.

“Wahai Umar bagaimana pendapatmu, jika Allah telah memberi kelonggaran kepada para pejuang Badar?” sabda Rasul.

Hal lain yang menguatkan diterimanya taubat Hatib adalah, pada suatu hari salah seorang pelayan Hatib datang kepada Rasulullah untuk mengadukan perlakuan Hatib kepadanya. Pelayan itu berkata: “Wahai Rasulullah, kelak sungguh Hatib akan masuk neraka.” Tetapi Rasulullah berkata: “Tidak, karena ia ikut berperang pada peristiwa Badar dan juga ikut dalam perjanjian Hudaibiyah.”

Sejak saat itu, Hatib menangis menyesali perbuatannya. Siang dan malam dilakukan dengan selalu memohon ampunan kepada Allah atas kesesatannya hingga ia meninggal dunia pada usia 53 tahun.



--------------------- Bacaan Bermakna