Hatib Ibnu Balta'ah ra. adalah seorang sahabat Nabi yang tidak mempunyai kedudukan yang tinggi
di Makkah. Dia bukanlah dari keluarga bangsawan, bukan hartawan dan bukan
pedagang. Tujuan hidupnya adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya. Rasul begitu
menghormatinya.
Suatu ketika, saat Nabi Muhammad SAW sibuk mempersiapkan
penaklukan kota Makkah (fathu Makkah),
fikiran Hatib gundah gulana. Ia sedih memikirkan anak-anaknya dan keluarganya
yang tidak aman dari penganiayaan kaum Quraisy, karena di Makkah mereka tidak
mempunyai pelindung atau keluarga yang dapat melindungi dan menjaga mereka
daripada musuh-musuh Islam. Pikirannnya buntu. Syaitan terus menggodanya
sehingga ia merasa kalut. Ia pun pada akhirnya memutuskan untuk mendekati kaum
musyrikin Quraisy dengan memberitahu pada mereka mengenai rahasia-rahasia
kekuatan senjata yang telah dipersiapkan Rasulullah untuk penaklukan atas kota
Makkah. Hal ini semata dilakukannya karena khawatir akan keselamatan
keluarganya.
Tidak pernah terfikirkan olehnya, bahwa perbuatan itu
merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa rahasia tentara
adalah amanat yang ada di bahu para perajurit. Bila salah satu rahasia sampai
dibocorkan, maka perajurit tersebut akan mendapat amarah dari Allah, malaikat-Nya
dan semua kaum muslimin. Dengan dibocorkannya rahasia itu, ia telah menghadapkan
pasukannya pada bahaya dan sekaligus menghadapkan tanah air pada kebinasaan.
Itulah langkah yang terburuk dalam kehidupan Hatib Ibnu
Balta'ah. Cahaya iman telah padam di hatinya. Ia tidak lagi memikirkan
keagungan akidah. Dengan tangan gementar, ia mulai menulis surat kepada
pembesar-pembesar Quraisy. Surat itu diserahkan kepada seorang wanita. Ia
menyuruh wanita tersebut agar merahasiakan surat itu di sanggul rambutnya
sehingga jika ada orang yang menghadangnya, maka surat itu tidak akan
diketahui. Ia berjanji pada wanita itu akan memberi hadiah yang mahal bila
surat itu telah sampai di tangan pembesar Quraisy.
Baru saja wanita tersebut meninggalkan Madinah, malaikat
Jibril segera memberitahu Rasulullah tentang apa yang telah dilakukan Hatib.
Maka Rasulullah cepat-cepat memanggil Ali Ibn Abi Thalib dan Zubair Ibn Awwam.
“Kejarlah wanita itu, ia memberitahu surat Hatib untuk
para pembesar Quraisy yang isinya menerangkan mereka tentang persiapan yang
telah kita himpun dalam menaklukkan mereka.”
Ali dan Zubair bergegas keluar mencari wanita itu dan
keduanya menemukan wanita tersebut di daerah Raudhah Khah. Ketika Ali ra.
menyuruh wanita itu supaya mengeluarkan surat Hatib, wanita itu tidak mengaku
kalau ia sedang membawa surat. Maka Ali pun berdiri dan memeriksanya, tetapi ia
tidak menemukan surat itu.
Akhirnya dengan marah Ali memandang wanita itu dan
berkata, “Aku bersumpah kepada Allah bahwa Rasulullah tidak pernah berdusta.
Sekarang kamu harus pilih apakah kamu mau menyerahkan surat itu kepadaku, ataukah
aku harus menelanjangi kamu!”
Setelah Ali bersikap kasar dan memberi dua pilihan,
akhirnya wanita itu berkata: “Berpalinglah.” Setelah itu Ali membalikkan badan
kemudian wanita itu membuka ikatan rambutnya dan mengeluarkan surat darinya,
lalu menyerahkan surat itu kepada Ali.
Ali dan Zubair segera kembali kepada Rasulullah dengan
membawa surat Hatib. Rasulullah menghadirkan Hatib Ibn Abu Balta'ah dan
bertanya kepadanya, “Wahai Hatib, apa yang mendorong kamu berbuat demikian?”
“Wahai Rasulullah, janganlah tergesa-gesa menghukum
diriku. Semua itu kulakukan karena aku bukan dari golongan Quraisy, di Makkah
aku masih mempunyai sanak saudara. Maka aku ingin kaum Quraisy menjaga
keluargaku di Makkah. Dan sungguh, itu aku lakukan bukan karena aku telah
murtad dari Islam, dan bukan pula aku rela kepada kekufuran sesudah iman.”
Rasulullah memandang para sahabat yang hadir dengan wajah
bersinar, “Bagaimana pun juga, ia telah berkata jujur."
Suasana majlis menjadi hening sejenak. Tiba-tiba Umar
berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang munafik ini.”
Umar berpandangan bahwa membocorkan rahasia-rahasia
laskar Islam merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka
balasannya adalah harus dibunuh. Sementara itu Rasulullah telah memaafkan Hatib
karena ia telah mengakui dosanya. Selain itu baginda mengingat perjuangan Hatib
di masa lalu karena ia berjuang di medan perang Badar, sehingga banyak pasukan
musyrikin yang mati di bawah tebasan pedangnya. Ia berani menghadapi bahaya
dengan menerjang barisan musuh. Rasulullah juga mengingat posisi Hatib pada
hari Bai'atur Ridwan di bawah sebuah pohon yang diberkahi, di mana pada saat
itu para malaikat menyaksikan orang-orang mukmin yang sedang mengulurkan tangan
mereka untuk berbaiat kepada Rasulullah.
“Wahai Umar bagaimana pendapatmu, jika Allah telah
memberi kelonggaran kepada para pejuang Badar?” sabda Rasul.
Hal lain yang menguatkan diterimanya taubat Hatib adalah,
pada suatu hari salah seorang pelayan Hatib datang kepada Rasulullah untuk
mengadukan perlakuan Hatib kepadanya. Pelayan itu berkata: “Wahai Rasulullah,
kelak sungguh Hatib akan masuk neraka.” Tetapi Rasulullah berkata: “Tidak,
karena ia ikut berperang pada peristiwa Badar dan juga ikut dalam perjanjian
Hudaibiyah.”
Sejak saat itu, Hatib menangis menyesali perbuatannya.
Siang dan malam dilakukan dengan selalu memohon ampunan kepada Allah atas
kesesatannya hingga ia meninggal dunia pada usia 53 tahun.
--------------------- Bacaan Bermakna