Berikut adalah sebuah cerita yang
dikutip dari kitab ‘Uyun Al-Hakaya
karya Abu Faraj Ibn Al-Jauzi. Diceritakan, Al Ashma’i sedang berjalan bersama
rekannya menuju hutan. Namun, tiba-tiba mereka tersesat dan kehilangan arah. Mereka
melihat sebuah kemah di kanan jalan dan mendatanginya. Tak lupa Al Ashma’i dan
rekannya mengucap salam, yang kemudian salam itu dijawab oleh seorang wanita
dari dalam kemah.
Wanita itu bertanya, “Siapakah
kalian?”
“Kami orang yang tersesat di
jalan. Kami ingin menemui kalian agar hati kami sedikit lebih tenang,” jawab Al
Ashma’i.
Wanita tuan rumah kembali
berkata, “Kisanak sekalian, palingkan wajah kalian dariku, aku akan berikan hak
kalian sebagai tamu, sebab kalian tidak berhak melihatku.”
Al Ashma’i dan rekannya menuruti permintaan wanita
tersebut.
“Duduklah kalian disini sampai
anakku tiba,” pinta wanita itu sembari menghamparkan sebuah kain alas duduk.
Kemudian tuan rumah menyingkap
ujung kemah dan menariknya sambil berkata, “Semoga Allah memberikan berkah
kepada kami berkat kedatangan kalian. Unta itu milik anakku, tapi yang
menungganginya bukanlah anakku.”
“Hai Umi Uqail, semoga Allah
melimpahkan pahala kepadamu karena Uqail,” berkatalah si pemuda yang
menunggangi unta.
Wanita itu bertanya, “Kasihan,
apakah Uqail anakku meninggal dunia?”
“Benar, dia meninggal,” jawabnya.
“Kenapa dia meninggal dunia?”
“Kawanan unta menginjak-injaknya,
lalu melemparkannya ke dalam sumur,” pemuda yang menunggangi unta itu
menjelaskan kronologi kematian Uqail.
Namun, Umi Uqail tetap tenang dan
berkata, “Turunlah, berikan hak para tamu ini.”
Sang tuan rumah kemudian
menyerahkan seekor kambing kepada lelaki yang menaiki unta untuk disembelih dan
dimasak. Lalu, dia menyuguhkannya kepada kedua tamunya itu.
Dengan lahap, Al Ashma’i dan
temannya menikmati suguhan yang menggiurkan itu. Mereka berdua tak
henti-hentinya kagum akan kesabaran Umi Uqail yang tetap tenang menghadapi
kenyataan yang begitu menyedihkan. Setelah selesai dengan hidangan tersebut,
wanita tersebut mendatangi kedua tamunya dan bertanya. “Apakah diantara kalian
ada yang pandai membaca Al-Qur’an?”
Al Ashma’i pun menjawab, “Ya.”
“Bacalah sebuah ayat untukku dari
Al-Qur’an agar aku terhibur.”
Maka Al Ashma’i membacakan sebuah
ayat yang artinya, “Dan sungguh akan Kami
berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang
yang sabar, orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka
itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petujuk.” (Al Baqarah: 155-7)
Setelah mendengarkan ayat
tersebut, tuan rumah itu bertanya, “Apakah ayat diatas adalah demikian di dalam
Al Qur’an?”
“Ya, memang demikian bunyinya,
demi Allah.”
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Aku ikhlaskan anakku Uqail di sisi Allah,” dia berkata seperti tiga kali. Kemudian
berkata, “Tuhanku, aku telah menunaikan apa yang Engkau perintahkan, maka
penuhilah janji-Mu kepadaku.”
--------------------- Bacaan Bermakna