02 April 2014

Kesabaran Ummu Uqail


Berikut adalah sebuah cerita yang dikutip dari kitab ‘Uyun Al-Hakaya karya Abu Faraj Ibn Al-Jauzi. Diceritakan, Al Ashma’i sedang berjalan bersama rekannya menuju hutan. Namun, tiba-tiba mereka tersesat dan kehilangan arah. Mereka melihat sebuah kemah di kanan jalan dan mendatanginya. Tak lupa Al Ashma’i dan rekannya mengucap salam, yang kemudian salam itu dijawab oleh seorang wanita dari dalam kemah.

Wanita itu bertanya, “Siapakah kalian?”

“Kami orang yang tersesat di jalan. Kami ingin menemui kalian agar hati kami sedikit lebih tenang,” jawab Al Ashma’i.

Wanita tuan rumah kembali berkata, “Kisanak sekalian, palingkan wajah kalian dariku, aku akan berikan hak kalian sebagai tamu, sebab kalian tidak berhak melihatku.”

Al Ashma’i  dan rekannya menuruti permintaan wanita tersebut.

“Duduklah kalian disini sampai anakku tiba,” pinta wanita itu sembari menghamparkan sebuah kain alas duduk.

Kemudian tuan rumah menyingkap ujung kemah dan menariknya sambil berkata, “Semoga Allah memberikan berkah kepada kami berkat kedatangan kalian. Unta itu milik anakku, tapi yang menungganginya bukanlah anakku.”

“Hai Umi Uqail, semoga Allah melimpahkan pahala kepadamu karena Uqail,” berkatalah si pemuda yang menunggangi unta.

Wanita itu bertanya, “Kasihan, apakah Uqail anakku meninggal dunia?”

“Benar, dia meninggal,” jawabnya.

“Kenapa dia meninggal dunia?”

“Kawanan unta menginjak-injaknya, lalu melemparkannya ke dalam sumur,” pemuda yang menunggangi unta itu menjelaskan kronologi kematian Uqail.

Namun, Umi Uqail tetap tenang dan berkata, “Turunlah, berikan hak para tamu ini.”

Sang tuan rumah kemudian menyerahkan seekor kambing kepada lelaki yang menaiki unta untuk disembelih dan dimasak. Lalu, dia menyuguhkannya kepada kedua tamunya itu.

Dengan lahap, Al Ashma’i dan temannya menikmati suguhan yang menggiurkan itu. Mereka berdua tak henti-hentinya kagum akan kesabaran Umi Uqail yang tetap tenang menghadapi kenyataan yang begitu menyedihkan. Setelah selesai dengan hidangan tersebut, wanita tersebut mendatangi kedua tamunya dan bertanya. “Apakah diantara kalian ada yang pandai membaca Al-Qur’an?”

Al Ashma’i pun menjawab, “Ya.”

“Bacalah sebuah ayat untukku dari Al-Qur’an agar aku terhibur.”

Maka Al Ashma’i membacakan sebuah ayat yang artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petujuk.” (Al Baqarah: 155-7)

Setelah mendengarkan ayat tersebut, tuan rumah itu bertanya, “Apakah ayat diatas adalah demikian di dalam Al Qur’an?”

“Ya, memang demikian bunyinya, demi Allah.”


“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku ikhlaskan anakku Uqail di sisi Allah,” dia berkata seperti tiga kali. Kemudian berkata, “Tuhanku, aku telah menunaikan apa yang Engkau perintahkan, maka penuhilah janji-Mu kepadaku.”



--------------------- Bacaan Bermakna