Nabi Musa dan Khidir pergi untuk meneruskan perjalanan yang penuh keajaiban itu, hingga mereka tiba di salah satu perkampungan, sementara rasa lapar nyaris membunuh mereka.
Mereka kemudian meminta makanan kepada penduduk kampung, khususnya untuk Nabi Musa yang belum makan sejak ikan besar itu melarikan diri dari keranjangnya. Di lain pihak, penduduk kampung ialah orang-orang yang kikir sehingga mereka tidak mau menjamu keduanya. Namun begitu, Nabi Musa dapat bersabar, hingga Khidir membawanya tiba di sebuah dinding tua yang hampir runtuh. Khidir berkata kepada Nabi Musa : "Bantulah aku untuk mendirikan dinding ini."
Meski lapar, Nabi Musa diam saja agar dirinya tidak berpisah dari orang shalih dalam perjalanan ini. Ia pun membantu Khidir hingga mereka dapat mendirikan dinding itu. Nabi Musa berkata : "Kita telah meminta makanan dan jamuan dari orang-orang itu, tapi mereka tidak mau menjamu kita. Jikalau engkau mau, tentu engkau dapat mengambil upah atas ini."
Khidir menjawab : "Inilah perpisahan antara aku denganmu."
Nabi Musa seolah menyesali apa yang telah ia katakan dan berharap andai saja perjalanan itu bisa lebih lama.
Khidir berkata : "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan dari perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat bersabar terhadapnya. Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut. Sementara di belakang mereka ada seorang raja dzalim (yaitu Hudad bin Budar) yang akan mengambil setiap perahu secara paksa. Apabila ia melihat perahu itu cacat, maka ia akan membiarkannya dan tidak merampasnya.
Raja itu datang setelah kita turun dari perahu, kemudian ia mendapati perahu itu telah berlubang sehingga ia pun membiarkannya. Dengan demikian, melubangi perahumenjadi penyebab bagi keselamatan para pemiliknya, bukan menenggelamkan mereka."
Nabi Musa yang tidak mengetahui hal-hal ghaib itu merasa kagum. Acap kali manusia tertipu oleh akalnya, padahal ia tidak mengetahui hikmah Allah SWT yang ada di balik keadaan yang dialaminya.
"Adapun anak itu -namanya adalah Jaisur-, kedua orang tuanya adalah mukmin. Adapun ia sendiri, jika Allah SWT membiarkannya dewasa, niscaya ia akan menjadi orang yang kafir. Allah SWT akan menggantikan bagi kedua orang tuanya denagn seorang anak yang lain yang lebih baik daripadanya, yang akan menjadi seorang mukmin dan tidak akan melelahkan mereka berdua."
Demikianlah, kematian anaknya justru menjadi terapi bagi orang tua yang beriman itu, sekalipun mereka harus merasakan kesediahan yang sangat. Alangkah rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya lebih banyak daripada kasih sayang ibu kepada anaknya.
"Adapun dinding, itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu. Ayah mereka ialah orang yang shaliih, sementara di bawah dinding tersebut terdapat harta bagi mereka yang diletakkan oleh ayah mereka. Ayah mereka telah berdo'a kepada Allah SWT agar anaknya bisa mendapatkan harta simpanan itu, kemudian Allah SWT mengabulkan do'anya dan memerintahkan kepadaku untuk datang dan membangun dinding tersebut sebelum runtuh. Jika mereka sudah besar, mereka akan menemukan harta simpanan itu. Wahai Musa, inilah penjelasan dari perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat bersabar terhadapnya."
Khidir kemudian melepas Nabi Musa dan Nabi Musa pun melepasnya. Setelah menempuh perjalanan ini, Nabi Musa kemudian kembali kepada Bani Isra'il dengan membawa pengetahuan yang baru dan kebaiakn yang banyak. Kisah perahu yang dilepas papannya, anak kecil yang dibunuh, dan dinding yang hampir roboh.
Dalam kurun waktu sangat jauh sesudah itu, tapatnya pada masa Rasulullah SAW, beliau bersabda memberikan komentarnya sehubungan dengan peristiwa tersebut : "Sekiranya saja Nabi Musa dapat bersabar, tentulah kita akan melihat banyak peristiwa yang amat menakjubkan." dan sudah barang tentu kita semua pun menyukai hal tersebut.
Mereka kemudian meminta makanan kepada penduduk kampung, khususnya untuk Nabi Musa yang belum makan sejak ikan besar itu melarikan diri dari keranjangnya. Di lain pihak, penduduk kampung ialah orang-orang yang kikir sehingga mereka tidak mau menjamu keduanya. Namun begitu, Nabi Musa dapat bersabar, hingga Khidir membawanya tiba di sebuah dinding tua yang hampir runtuh. Khidir berkata kepada Nabi Musa : "Bantulah aku untuk mendirikan dinding ini."
Meski lapar, Nabi Musa diam saja agar dirinya tidak berpisah dari orang shalih dalam perjalanan ini. Ia pun membantu Khidir hingga mereka dapat mendirikan dinding itu. Nabi Musa berkata : "Kita telah meminta makanan dan jamuan dari orang-orang itu, tapi mereka tidak mau menjamu kita. Jikalau engkau mau, tentu engkau dapat mengambil upah atas ini."
Khidir menjawab : "Inilah perpisahan antara aku denganmu."
Nabi Musa seolah menyesali apa yang telah ia katakan dan berharap andai saja perjalanan itu bisa lebih lama.
Khidir berkata : "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan dari perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat bersabar terhadapnya. Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut. Sementara di belakang mereka ada seorang raja dzalim (yaitu Hudad bin Budar) yang akan mengambil setiap perahu secara paksa. Apabila ia melihat perahu itu cacat, maka ia akan membiarkannya dan tidak merampasnya.
Raja itu datang setelah kita turun dari perahu, kemudian ia mendapati perahu itu telah berlubang sehingga ia pun membiarkannya. Dengan demikian, melubangi perahumenjadi penyebab bagi keselamatan para pemiliknya, bukan menenggelamkan mereka."
Nabi Musa yang tidak mengetahui hal-hal ghaib itu merasa kagum. Acap kali manusia tertipu oleh akalnya, padahal ia tidak mengetahui hikmah Allah SWT yang ada di balik keadaan yang dialaminya.
"Adapun anak itu -namanya adalah Jaisur-, kedua orang tuanya adalah mukmin. Adapun ia sendiri, jika Allah SWT membiarkannya dewasa, niscaya ia akan menjadi orang yang kafir. Allah SWT akan menggantikan bagi kedua orang tuanya denagn seorang anak yang lain yang lebih baik daripadanya, yang akan menjadi seorang mukmin dan tidak akan melelahkan mereka berdua."
Demikianlah, kematian anaknya justru menjadi terapi bagi orang tua yang beriman itu, sekalipun mereka harus merasakan kesediahan yang sangat. Alangkah rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya lebih banyak daripada kasih sayang ibu kepada anaknya.
"Adapun dinding, itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu. Ayah mereka ialah orang yang shaliih, sementara di bawah dinding tersebut terdapat harta bagi mereka yang diletakkan oleh ayah mereka. Ayah mereka telah berdo'a kepada Allah SWT agar anaknya bisa mendapatkan harta simpanan itu, kemudian Allah SWT mengabulkan do'anya dan memerintahkan kepadaku untuk datang dan membangun dinding tersebut sebelum runtuh. Jika mereka sudah besar, mereka akan menemukan harta simpanan itu. Wahai Musa, inilah penjelasan dari perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat bersabar terhadapnya."
Khidir kemudian melepas Nabi Musa dan Nabi Musa pun melepasnya. Setelah menempuh perjalanan ini, Nabi Musa kemudian kembali kepada Bani Isra'il dengan membawa pengetahuan yang baru dan kebaiakn yang banyak. Kisah perahu yang dilepas papannya, anak kecil yang dibunuh, dan dinding yang hampir roboh.
Dalam kurun waktu sangat jauh sesudah itu, tapatnya pada masa Rasulullah SAW, beliau bersabda memberikan komentarnya sehubungan dengan peristiwa tersebut : "Sekiranya saja Nabi Musa dapat bersabar, tentulah kita akan melihat banyak peristiwa yang amat menakjubkan." dan sudah barang tentu kita semua pun menyukai hal tersebut.
--------------------- Bacaan Bermakna