01 Juni 2012

Musa dan Khidir (Bagian 5)


Sifat lupa, tergesa-gesa, dan tidak sabar merupakan kelemahan yang ada pada diri manusia. Sesungguhnya dulu Nabi Adam pernah melakukan kekhilafan dengan memakan buah pohon terlarang dan mendahului perintah Allah SWT, sehingga balasan yang diterimanya adalah diturunkan ke bumi. Oleh karena itulah, seluruh keturunan Nabi Adam mewarisi sifat tersebut, sehingga Nabi Musa pun Khilaf akan janjinya kepada Khidir, bahwa ia tidak akan menanyakan apapun sampai Khidir yang akan menerangkan hakikatnya kepadanya.


Selanjutnya, Khidir pergi membawa Nabi Musa untuk memberikan pelajaran yang baru dan memperlihatkan rahasia yang lebih mengagumkan lagi. Khidir dan Musa keluar dari perahu dan menuju ke suatu perkampungan. Mereka bertemu dengan beberapa anak yang sedang bermain dan bersenda-gurau. Penampilan mereka bersih dari dosa, seolah-olah seperti malaikat. Mereka begitu lugu dan masih belum lagi mengenal mana yang benar dan mana yang keliru.

Tiba-tiba Khidir memilih anak yang paling tampan di antara anak-anak yang sedang bermain, kemudian membisikinya. Lalu anak itu berjalan bersamanya. Sehingga ketika mereka jauh dari pandangan manusia, Khidir memelintir kepala anak itu hingga membunuhnya.

Nabi Musa melihatnya ketika ia melakukan perbuatan itu. Nabi Musa marah, emosi, dan menjerit seraya berkata : "Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena ia membunuh orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang munkar."

Sesungguhnya persoalan yang pelik ini tidakk bisa dipahami oleh Nabi Musa AS. Seandainya salah seorang dari kita berada di posisinya, niscaya kita pun akan melakukan apa yang Nabi Musa lakukan. Akan tetapi, Khidir tidak pernah melakukan apa pun kecuali atas perintah Allah SWT. Khidir menatap Nabi Musa seraya berkata : "Bukankah telah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya engkau tidak akan dapat bersabar bersamaku?"

nabi Musa menjawab dalam keadaan malu atas apa yang telah ia lakukan : "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertaimu. Sesungguhnya engkau sudah cukup memberikan udzur (maaf) kepadaku."

Andai saja Nabi Musa tidak mengatakan itu, tentulah kita akan lebih banyak lagi keajaiban dari perjalanan ini. Namun itulah syarat yang ditetapkan Nabi Musa kepada dirinya. Ia menduga bahwa dirinya tidak akan khilaf lagi.

--------------------- Bacaan Bermakna