Zaid bin Harisah adalah seorang panglima Islam yang termasyhur. Usianya 10 tahun lebih muda darizNabi Muhammad SAW. Ia berasal dari kabilah Bani Ma’n. Ketika berusia 8 tahun, ia diajak ibunya yang bernama Su’da binti Sa’labah bin Abdi Amr untuk bepergian ke suatu tempat. Dalam perjalanan pulang, mereka dicegat oleh sekelompok orang dari Bani Qain bin Jasr. Zaid bin Harisah diculik dan dijual di pasar Ukaz sebagai budak.
Pasar Ukaz terletak 6 km dari Kota Mekkah. Ketika Zaid bin Harisah ditawarkan, Nabi Muhammad SAW sedang berada di pasar itu. Beliau tertarik untuk membeli budak itu. Nabi Muhammad SAW kemudian pulang dan meminta Khadijah untuk membelinya. Khadijah memenuhi permintaan Nabi. Setelah itu, Zaid bin Harisah dimerdekakan dan diangkat sebagai anak oleh Nabi Muhammad SAW.
Setelah Zaid bin Harisah bersama Nabi Muhammad, ayahnya dan kaumnya mencarinya selama bertahun-tahun. Secara kebetulan, pada musim haji, rombongan dari kaum ayahnya, yaitu Bani Kalb bertemu dengan Zaid bin Harisah. Ia lalu meminta mereka memberitahu pada ayahnya bahwa ia sekarang tinggal dengan Nabi Muhammad SAW. Setelah diberitahu, ayahnya dan pamannya yang bernama Ka’b bin Syarahil berangkat ke Mekkah. Mereka bermaksud menebus Zaid bin Harisah dari Nabi Muhammad dan membawanya pulang. Nabi Muhammad SAW tidak mau menerima tebusan. Namun beliau meminta Zaid bin Harisah untuk memilih antara tetap bersama Nabi Muhammad SAW atau pulang ke kampung halamannya mengikuti ayahnya dan pamannya. Zaid bin Harisah ternyata lebih suka tinggal bersama Nabi Muhammad SAW. Pilihan Zaid bin Harisah membuat ayah dan pamannya marah. Mereka menganggap Zaid bin Harisah lebih suka hidup dalam perbudakan daripada pulang ke kampung halaman. Zaid bin Harisah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersikap baik kepadanya dan telah dianggapnya sebagai pengganti orang tuannya.
Nabi Muhammad SAW kemudian membawa Zaid bin Harisah keluar serambi rumah. Beliau kemudian mengumumkan bahwa Zaid bin Harisah adalah anak angkat dan ahli warisnya. Setelah mendengar pernyataan Nabi Muhammad tersebut, ayah dan paman Zaid bin Harisah merasa lega. Mereka berdua kemudian kembali ke negerinnya. Sejak saat itu, para sahabat memanggil Zaid dengan Zaid bin Muhammad, sampai turunnya Surah Al-Ahzab ayat 5 yang menyuruh umat Islam memanggil anak dengan nama ayah kandungnya. Setelah itu, Zaid kembali dipangil Zaid bin Harisah.
Zaid bin Harisah merupakan salah satu orang yang pertama masuk Islam setelah Khadijah dan Ali bin Abu Thalib. Ia turut berjuang mempertahankan Islam dari permusuhan kaum kafir. Ia ikut hijrah ke Madinah dan dipersaudarakan oleh nabi Muhammad dengan Hamzah bin Abdul Muttalib. Setelah Hamzah bin Abdul Muttalib meninggal, ia dipersaudarakan dengan Ussaid bin Hudair.
Zaid bin Harisah termasuk anggota pasukan pemanah yang gagah berani dan mengikuti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, dan perang Hunain. Ia juga dipercaya untuk memimpin ekspedisi militer ke Qarada pada tahun 2 H dan ke al-‘Is pada tahun 6 H.
Sebagai orang yang disayangi Nabi Muhammad, Zaid bin Harisah dikawinkan dengan sepupu Nabi, yaitu Zainab binti Jahsyi. Akan tetapi, pernikahan itu tidak berjalan harmonis karena Zainab binti Jahsyi merasa dirinya adalah keturunan bangsawan. Ia merasa martabatnya lebih tinggi daripada suaminya yang mantan budak. Mereka kemudian berceerai.
Setelah itu, Zaid bin Harisah menikah dengan Ummu Aiman. Dari pernikahannya dengan Ummu Aiman, ia mendapatkan seorang putra yang diberi nama Usamah bin Zaid. Usamah kelak akan menjadi panglima pasukan Islam yang menaklukkan Syam.
Zaid bin Harisah meninggal pada Perang Mu’tah melawan pasukan Bizantium pada tahun 8 H. dalam peperangan itu, Zaid bin Harisah dituunjuk oleh Nabi Muhammad SAW sebagai panglima. Nabi berpasan seandainya Zaid bin Harisah terbunuh, kepemimpinan hendaknya dipegang oleh ja’far bin Abi Thalib. Apabila Ja’far bin Abi Thalib juga meninggal, kepemimpinan hendaknya dipegang oleh Abdullah bin Rawahah. Zaid bin Harisah memimpin pasukannya dengan gagah berani. Berita gugurnya Zaid bin Harisah sampai pada Nabi Muhammad SAW. Mendengar berita itu, Rasulullah SAW menangis. Beliau mengatakan, “Zaid telah mati syahid.”
Pasar Ukaz terletak 6 km dari Kota Mekkah. Ketika Zaid bin Harisah ditawarkan, Nabi Muhammad SAW sedang berada di pasar itu. Beliau tertarik untuk membeli budak itu. Nabi Muhammad SAW kemudian pulang dan meminta Khadijah untuk membelinya. Khadijah memenuhi permintaan Nabi. Setelah itu, Zaid bin Harisah dimerdekakan dan diangkat sebagai anak oleh Nabi Muhammad SAW.
Setelah Zaid bin Harisah bersama Nabi Muhammad, ayahnya dan kaumnya mencarinya selama bertahun-tahun. Secara kebetulan, pada musim haji, rombongan dari kaum ayahnya, yaitu Bani Kalb bertemu dengan Zaid bin Harisah. Ia lalu meminta mereka memberitahu pada ayahnya bahwa ia sekarang tinggal dengan Nabi Muhammad SAW. Setelah diberitahu, ayahnya dan pamannya yang bernama Ka’b bin Syarahil berangkat ke Mekkah. Mereka bermaksud menebus Zaid bin Harisah dari Nabi Muhammad dan membawanya pulang. Nabi Muhammad SAW tidak mau menerima tebusan. Namun beliau meminta Zaid bin Harisah untuk memilih antara tetap bersama Nabi Muhammad SAW atau pulang ke kampung halamannya mengikuti ayahnya dan pamannya. Zaid bin Harisah ternyata lebih suka tinggal bersama Nabi Muhammad SAW. Pilihan Zaid bin Harisah membuat ayah dan pamannya marah. Mereka menganggap Zaid bin Harisah lebih suka hidup dalam perbudakan daripada pulang ke kampung halaman. Zaid bin Harisah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersikap baik kepadanya dan telah dianggapnya sebagai pengganti orang tuannya.
Nabi Muhammad SAW kemudian membawa Zaid bin Harisah keluar serambi rumah. Beliau kemudian mengumumkan bahwa Zaid bin Harisah adalah anak angkat dan ahli warisnya. Setelah mendengar pernyataan Nabi Muhammad tersebut, ayah dan paman Zaid bin Harisah merasa lega. Mereka berdua kemudian kembali ke negerinnya. Sejak saat itu, para sahabat memanggil Zaid dengan Zaid bin Muhammad, sampai turunnya Surah Al-Ahzab ayat 5 yang menyuruh umat Islam memanggil anak dengan nama ayah kandungnya. Setelah itu, Zaid kembali dipangil Zaid bin Harisah.
Zaid bin Harisah merupakan salah satu orang yang pertama masuk Islam setelah Khadijah dan Ali bin Abu Thalib. Ia turut berjuang mempertahankan Islam dari permusuhan kaum kafir. Ia ikut hijrah ke Madinah dan dipersaudarakan oleh nabi Muhammad dengan Hamzah bin Abdul Muttalib. Setelah Hamzah bin Abdul Muttalib meninggal, ia dipersaudarakan dengan Ussaid bin Hudair.
Zaid bin Harisah termasuk anggota pasukan pemanah yang gagah berani dan mengikuti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, dan perang Hunain. Ia juga dipercaya untuk memimpin ekspedisi militer ke Qarada pada tahun 2 H dan ke al-‘Is pada tahun 6 H.
Sebagai orang yang disayangi Nabi Muhammad, Zaid bin Harisah dikawinkan dengan sepupu Nabi, yaitu Zainab binti Jahsyi. Akan tetapi, pernikahan itu tidak berjalan harmonis karena Zainab binti Jahsyi merasa dirinya adalah keturunan bangsawan. Ia merasa martabatnya lebih tinggi daripada suaminya yang mantan budak. Mereka kemudian berceerai.
Setelah itu, Zaid bin Harisah menikah dengan Ummu Aiman. Dari pernikahannya dengan Ummu Aiman, ia mendapatkan seorang putra yang diberi nama Usamah bin Zaid. Usamah kelak akan menjadi panglima pasukan Islam yang menaklukkan Syam.
Zaid bin Harisah meninggal pada Perang Mu’tah melawan pasukan Bizantium pada tahun 8 H. dalam peperangan itu, Zaid bin Harisah dituunjuk oleh Nabi Muhammad SAW sebagai panglima. Nabi berpasan seandainya Zaid bin Harisah terbunuh, kepemimpinan hendaknya dipegang oleh ja’far bin Abi Thalib. Apabila Ja’far bin Abi Thalib juga meninggal, kepemimpinan hendaknya dipegang oleh Abdullah bin Rawahah. Zaid bin Harisah memimpin pasukannya dengan gagah berani. Berita gugurnya Zaid bin Harisah sampai pada Nabi Muhammad SAW. Mendengar berita itu, Rasulullah SAW menangis. Beliau mengatakan, “Zaid telah mati syahid.”
--------------------- Bacaan Bermakna