Tak kala Nabi Nuh as berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafit dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama “kan’ aan” timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombanganyang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah itu.
Pada saat itu, tanpa disadari, timbulah rasa cinta dan kasih sayang seoranmg ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut di telan gelombang.
Nabi Nuh as secara sepontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil puteranya : “wahai anakku, datanglah kemari dan gubungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindari dari dari bahaya maut yang engkau jalani hukuman Allah”. Kan’aan, putera Nabi Nuh yang tersesat dan terkena rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak degan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang : “biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu, akan akan dapat menyelematkan diriku sendiri dan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bai ini”
Nabi Nuh as pun menjawab : “Percalah bahwa tempat satu-satunya yang dapat menyelematkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah dilimpahkan ini kecuali orang0orang yang memperoleh rahmat dan keampuanan-Nya.
Setelah Nabi Nuh as mengucapkan kata-katanya, tenggelamlah kan’an disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikuti kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.
Nabi Nuh as hatinya bersedih dan berduka cita atas kematian puteranya dalam dalam keadaan kafir dan tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berkeluh kesah dan berseru kepada Allah : “Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji benar dan engkaulah maha hakim yang maha berkuasa”
Kepadanya Allah berfirman : “Wahai nuh, sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu, menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir dari pada kaummu. Coretlah namanya dari daftar keluargamu. Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu, mengikuti jalanmu dan beriman kepada Ku dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah aku janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya. Adapun orang-orang yang mengingkari risalahmu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa nafsunya dan tuntutan iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hubungan yang telah aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum engkau ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang bodoh”
Nabi Nuh as pun tersadar, segera setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Ia sadar bahwa ia tersesar pada saat ia memanggil puteranya untuk menyelematkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan aluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah harus mendhului cinta kepada keluarga dan harta benda. Ia sangat menyesalah akan kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah memohon ampunan dan maghfirahnya dengan berseru : “Ya Tuhanku aku berlindung kepada-mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuat yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engau tidak memberi ampunan dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, niscaya aku akan menjadi orang yang rugi”
Setelah air bah itu mencapai puncak keganansannya dan habis binaslah kaum nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal nuh di atas bukit Judie dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh As : “Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu”
Di dalam al quran diceritakan kisah Nabi Nuh dalam surat Nuh ayat 1 sampai 28, juga dalam surat hud ayat 27 – 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah Nabi Nuh membuat kapal serta keadaan banjir yang menimpa di atas mereka.
hal yang dapat kita ambil hikmah dari kisah Nabi Nuh adalah hubungan antara manusia yang terjalin karena ikatan persamaan kepercayaan atau persamaan aqidah dan pendirian adalah lebih erat dan lebih berkesan dari pada hubungan yang terjalin karena ikatan darah atau kelahiran. Kan’aan yang walaupun adalah anak kandung Nabi Nuh as, oleh Allah SWT dikeluarkan dari bilangan keluarga Nabi Nuh karena menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut dan didakhawahkan oleh Nabi Nuh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan menentangnya.
Baca kisah sebelumnya
Nabi Nuh as secara sepontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil puteranya : “wahai anakku, datanglah kemari dan gubungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindari dari dari bahaya maut yang engkau jalani hukuman Allah”. Kan’aan, putera Nabi Nuh yang tersesat dan terkena rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak degan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang : “biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu, akan akan dapat menyelematkan diriku sendiri dan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bai ini”
Nabi Nuh as pun menjawab : “Percalah bahwa tempat satu-satunya yang dapat menyelematkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah dilimpahkan ini kecuali orang0orang yang memperoleh rahmat dan keampuanan-Nya.
Setelah Nabi Nuh as mengucapkan kata-katanya, tenggelamlah kan’an disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikuti kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.
Nabi Nuh as hatinya bersedih dan berduka cita atas kematian puteranya dalam dalam keadaan kafir dan tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berkeluh kesah dan berseru kepada Allah : “Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji benar dan engkaulah maha hakim yang maha berkuasa”
Kepadanya Allah berfirman : “Wahai nuh, sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu, menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir dari pada kaummu. Coretlah namanya dari daftar keluargamu. Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu, mengikuti jalanmu dan beriman kepada Ku dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah aku janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya. Adapun orang-orang yang mengingkari risalahmu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa nafsunya dan tuntutan iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hubungan yang telah aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum engkau ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang bodoh”
Nabi Nuh as pun tersadar, segera setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Ia sadar bahwa ia tersesar pada saat ia memanggil puteranya untuk menyelematkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan aluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah harus mendhului cinta kepada keluarga dan harta benda. Ia sangat menyesalah akan kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah memohon ampunan dan maghfirahnya dengan berseru : “Ya Tuhanku aku berlindung kepada-mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuat yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engau tidak memberi ampunan dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, niscaya aku akan menjadi orang yang rugi”
Setelah air bah itu mencapai puncak keganansannya dan habis binaslah kaum nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal nuh di atas bukit Judie dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh As : “Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu”
Di dalam al quran diceritakan kisah Nabi Nuh dalam surat Nuh ayat 1 sampai 28, juga dalam surat hud ayat 27 – 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah Nabi Nuh membuat kapal serta keadaan banjir yang menimpa di atas mereka.
hal yang dapat kita ambil hikmah dari kisah Nabi Nuh adalah hubungan antara manusia yang terjalin karena ikatan persamaan kepercayaan atau persamaan aqidah dan pendirian adalah lebih erat dan lebih berkesan dari pada hubungan yang terjalin karena ikatan darah atau kelahiran. Kan’aan yang walaupun adalah anak kandung Nabi Nuh as, oleh Allah SWT dikeluarkan dari bilangan keluarga Nabi Nuh karena menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut dan didakhawahkan oleh Nabi Nuh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan menentangnya.
Baca kisah sebelumnya
--------------------- Bacaan Bermakna