22 April 2014

Kisah Siti Muthi'ah: Dipuji Nabi Karena Budi Pekertinya

Dikisahkan, pada suatu hari, Nabi SAW sedang berbincang dengan putri kesayangannya, Fatimah.

“Fatimah anakku, maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan istri yang dicintai suami?” Tanya Nabi pada putrinya.

“Tentu saja, wahai ayahku.”

“Tidak jauh dari rumah ini, berdiam seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya. Namanya Siti Muthi’ah. Temuilah dia, teladani budi pekertinya yang baik itu.”

Penasaran, amal apakah yang membuatnya begitu special hingga Nabi memujinya. Fatimah pun menuju rumah Muthi’ah dengan mengajak serta Hasan, putra Fatimah yang masih kecil.

Begitu melihat tamunya, betapa bahagianya Muthia’ah.

“Wah, bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu ini, Fatimah. Namun maafkan aku sahabatku, suamiku telah beramanat, aku tidak boleh menerima tamu laki-laki di rumah ini.”

“Ini Hasan putraku sendiri. Ia juga masih anak-anak,” kata Fatimah sambil tersenyum.

“Namun sekali lagi maafkanlah aku. Aku tak ingin mengecewakan suamiku, wahai Fatimah.”

Fatimah mulai memahami keutamaan Muthi’ah. Ia kagum dan ingin meneladani lebih dalam akhlak wanita tersebut. Lalu diantarlah Hasan pulang dan bergegaslah Fatimah kembali ke rumah Muthi’ah.

“Aku jadi berdebar-debar, gerangan apakah yang membuatmu begitu ingin ke rumahku, wahai putrid Nabi?”

“Memang benarlah, Muthi’ah. Ada berita gembira untukmu dan ayahku sendirilah yang menyuruhku kesini. Ayahku mengatakan bahwa engkau adalah wanita berbudi sangat baik, karena itulah aku kesini untuk meneladanimu, wahai Muthi’ah.”

“Engkau sedang bercanda, sahabatku? Aku ini wanita biasa yang nggak punya keistimewaan apapun seperti yang engkau lihat sendiri.”

“Aku tidak berbohong, wahai Muthi’ah, karena itu ceritakan kepadaku agar aku bisa meneladaninya.”

Siti Muthi’ah terdiam. Hening. Lalu tanpa sengaja Fatimah melihat sehelai handuk kecil, kipas dan sebilah rotan di ruangan itu.

“Buat apa ketiga benda ini, Muthi’ah?”

“Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat saying dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan handuk kecil ini hingga kering keringatnya. Ia pun berbaring di tempat tidur melepas lelah. Lalu kukipasi beliau hingga hilang lelahnya atau tertidur pulas.”

“Sungguh luar biasa budi pekertimu, Muthi’ah. Lalu untuk apa rotan ini?”

“Setelah itu, aku kemudian berpakaian semenarik mungkin untuknya. Sesudah ia bangun dan mandi, kusiapkan pula makanan dan minuman untuknya. Setelah semuanya selesai, aku berkata padanya, ‘Oh kakanda, bilamana pelayananku sebagai istri dan masakanku kurang berkenan di hatimu, aku ikhlas menerima hukuman. Pukullah diriku dengan rotan ini dan sebutlah kesalahanku agar tidak kuulangi.’”

“Seringkah engkau dipukul olehnya, wahai Muthi’ah?”

“Tidak pernah, Fatimah. Bukan rotan yang diambilnya, justru akulah yang ditarik dan didekapnya penuh kemesraan. Itulah bagian kebahagiaan kami sehari-hari.”

“jika demikian, sungguh luar biasa, wahai Muthi’ah. Sungguh luar biasa. Benarlah kata ayahku, bahwa engkau adalah perempuan yang berbudi pekerti sangat mulia.”

Subhanallah.




--------------------- Bacaan Bermakna