Suatu ketika, Hasan dan Husein,
kedua cucu kesayangan Nabi, melihat seorang kakek yang sedang berwudhu yang nampaknya
belum mengetahui cara berwudhu yang benar. Mereka masih sangat belia. Namun kewajiban
agama mengharuskan mereka membimbing dan mengajari kakek tersebut cara berwudhu
yang baik.
“Bagaimana cara menegurnya? Apakah harus dikatakan terus terang bahwa cara berwudhunya tidak benar? Apakah cara ini tidak akan menimbulkan salah paham? Jangan-jangan kakek itu menganggapnya suatu penghinaan sehingga ia tidak mau memperbaiki wudhunya,” begitu piker keduanya.
Mereka berpikir sejenak hingga
sampai mendapatkan ide bahwa kesalahan kakek tersebut sebaiknya diperbaiki
dengan cara tak langsung.
Mereka berdua pura-pura berselisih
pendapat mengenai cara berwudhu dan saling menuduh, “Kamu salah!” Kemudian, mereka
bersepakat meminta kakek tersebut sebagai hakim diantara mereka, dan kakek itu
setuju. Mulailah mereka berwudhu di hadapan sang kakek, kemudian bertanya, “Siapa
diantara kami yang lebih benar cara berwudhunya?”
“Semua benar!” jawab kakek, “Akulah
yang tidak benar. Aku ingin belajar dari kalian cara berwudhu yang benar.”
Wallahu A’lam.
--------------------- Bacaan Bermakna